Magnet besi berani bisa saling tertarik karena perbedaan dua kutub. Wanita dan pria bisa saling tertarik juga karena perbedaan.
dua perbedaan bila makin didekatkan maka makin kuat daya tariknya. Seperti Wanita yg halus,
didekatkan dengan lelaki yang "kasar"/tegas.
namun menurut ilmu fisika: apabila besi berani terlalu lama bersentuhan maka dia akan berkurang daya tarik magnetnya. Bagaikan suami istri yang berduaan terus sehingga jenuh, sehingga perlu berpisah secara berkala agar timbul daya tarik magnetnya yang bernama: "RINDU"
Hombreng dan Lesbong?
Homo dan lesbian bisa tarik menarik padahal kutubnya sama, apa sebabnya. Cinta birahi sesama jenis menyalahi ilmu hukum fisika yg Allah ciptakan.
jadi siapapun orangnya, apapun agamanya yg berani melanggar hukum fisika ciptaan Allah, bersiaplah mendapatkan resiko kehancuran
contoh kecilnya sudah anda lihat di tv berita-berita kriminal.
contoh besarnya: sejarah bencana alam yg menimpa kaum nabi Luth as.
Siang nan terik. Suasana di komplek terasa lenggang. Mungkin hari Libur sebagian keluarga memutuskan lebih nyaman bercengkrama di rumah bersama sanak family.
Tiba tiba sebuah suara memecah keheningan siang. “Sol Pattuu..”.
Aku mendengarnya dari bilik jendela ku.
Suara Aki..
Aku berfikir untuk mencari sesuatu yang bisa dijahitkan ke pada Aki. Usaha ku sia sia. Sepatu ku yang robek terakhir kemarin sudah dijahitkan oleh Tukang Sol Sepatu keliling yang lain, maaf ya Aki, aku tak menunggu Aki karena aku memerlukannya untuk ke kampus segera.
Siang ini Aki kembali datang.
Dengan memikul dua kotak yang setia melekat pada bahu nya.
Dikayuhnya kaki yang berjalan dengan sedikit terpincang pincang.
Kau mungkin akan heran jika tahu berapa usia Aki (yang aku sendiri tidak tahu nama aslinya, kami hanya memanggilnya dengan sebuah sebutan, Aki, karena begitulah ia menyebut dirinya sendiri).
“Usia Aki sudah lewat 90 tahun tonk..” Begitu katanya pada kami siang tempo lalu. Ketika penasaran kami bertanya tentang usia nya.
“90 tahun lebih..? “ Raut keheranan bercampur kagum terpancar dari wajah dan mulut kami.
Aku membayangkan usia kakek sepuh ku mungkin tak akan kuat berjalan mengelilingi komplek memikul kotak yang lumayan berat itu, dengan kondisi Jakarta yang terik. Kami semakin bertambah keheranan.
“Aki, sudah Istirahat aja atuh, biar anak cucu nya yang kasih duit ke Aki..”
“Duh tonk, si Aki teh ga bisa diam di rumah, aki kudu kerja tonk, kalau enggak badan aki “pegel pegel”” Katanya terkekeh, tangan keriputnya cekatan menjahit sebuah sepatu milik tetangga di depan rumah.
“Lagi pula, Allah masih kasih Aki kesehatan, umur panjang, Aki harus mempergunakannya untuk ibadah pada Allah, nah bekerja juga kan ibadah tonk..”
Aki yang sudah tua, namun di usia nya satu hal yang membuat ia bersyukur. Umur panjang. Sisa umur yang ingin ia gunakan untuk kebaikan, Aki tak rela jika hanya duduk di dalam rumahnya, menunggu “kucuran dana” dari anak cucu nya.
Tak ada yang dapat mencegah seorang Aki keluar rumahnya, memikul dua kotak peralatan Sol nya, dengan kaki yang sedikit nyeri jika dipaksa berjalan, Aki nampak sedikit terpincang pincang. Namun Aki tetap menerobos sisa hari, menjemput rezeki yang Allah sediakan untuk hamba hamba –Nya yang mau berusaha.
Sebuah Profesi sederhana, namun tidak ada yang “sederhana” di mata Allah,
bayangkan jika Aki tak keliling kampung, mencari sepatu atau sandal yang perlu diperbaiki, sudah berapa rupiah yang harus dikeluarkan untuk membeli sepatu/sandal baru.
Aki mengajarkan pada kami bahwa fisik tidak menjadi penghalang, di usia senja nya, Aki masih terus “berteriak”, berjalan dari lorong ke lorong, “menyapa” kami setiap hari dengan suara khas nya. “Sool Pattu…!”.
Semoga Allah memberikan Aki kenikmatan Iman, dan kelapangan rezekiNya, diberikan kesehatan selalu.
Kualitas diri seseorang bisa diukur dari kemampuannya menjaga lidah. Orang-orang beriman tentu akan berhati-hati dalam menggunakan lidahnya.
Wahai orang-orang beriman takutlah kalian pada ALLAH dan berkatalah dengan kata-kata yang benar. (QS Al-Ahzab:70)
Sementara itu, Rasulullah saw bersabda,
Siapa yang beriman pada ALLAH dan hari akhir, maka hendaklah dia berkata baik atau diam. (HR Bukhari-Muslim)
Rasulullah adalah figur teladan yang sangat menjaga kata-katanya. Beliau berbicara, berucap, berdialog, juga berkhutbah di hadapan jamaah dengan akhlak. Demikian tinggi akhlak beliau hingga disebutkan bahwa kualitas akhlak beliau adalah Al-Quran.
Mulut manusia itu seperti moncong teko. Moncong teko hanya mengeluarkan isi teko. Kalau ingin tahu isi teko, cukup lihat dari apa yang keluar dari moncong itu. Begitu pun jika kita ingin mengetahui kualitas diri seseorang, lihat saja dari apa yang sering dikeluarkan oleh mulutnya.
Nabi Muhammad saw termasuk orang yang sangat jarang berbicara. Namun, sekalinya berbicara, isi pembicaraannya bisa dipastikan kebenarannya. Bobot ucapan Rasulullah sangat tinggi, seolah tiap kata yang terucap adalah butir-butir mutiara yang cemerlang. Indah, berharga, bermutu, dan monumental. Ucapan Rasulullah saw menembus hati, menggugah kesadaran, menghujam dalam jiwa, dan mengubah perilaku orang (atas izin ALLAH). Bukan saja karena lisan Rasulullah dibimbing ALLAH dan posisinya sebagai penyampai wahyu, di mana ucapan-ucapan darinya menjadi dasar hukum. Lebih dari itu, Rasulullah sejak kecil sudah dikenal sebagai Al-Amin, tidak pernah berkata dusta walau sekali saja. Investasi moral ini tentu sangat mempengaruhi kualitas ucapannya.
Dalam sebuah kitab ada keterangan menarik. Disebutkan ada empat jenis manusia diukur dari kualitas pembicaraannya.
Pertama, orang yang berkualitas tinggi. Kalau dia berbicara, isinya sarat dengan hikmah, ide, gagasan, solusi, ilmu, dzikir, dan sebagainya. Orang seperti ini pembicaraannya bermanfaat bagi dirinya sendiri, juga bagi orang lain yang mendengarkan. Jika dia diajak berbicara sekalipun ngobrol, ujungnya adalah manfaat.
Ketika disodorkan padanya keluhan tentang krisis, dengan tangkas dia menjawab, “Krisis adalah peluang bagi kita untuk mengevaluasi kekurangan yang ada. Dengan krisis, siapa tahu kita akan lebih kreatif? Kita bisa mencari celah-celah peluang inovasi. Pokoknya jangan putus asa, semangat terus!” Siapa saja yang biasa berbicara tentang solusi, gagasan, hikmah, dan hal-hal serupa itu, insya ALLAH dia adalah manusia yang berkualitas.
Kedua, orang yang biasa-biasa saja. Ciri orang seperti ini adalah selalu sibuk menceritakan peristiwa. Melihat ada kereta api terguling, dia berkomentar ribut sekali. Seolah dirinya yang kelindes kereta. Ketika bertemu seorang artis, terus dicerita-ceritakan tiada henti. Pokoknya ada apa saja dikomentari. Dia seperti juru bicara yang wajib berkomentar kapan pun ada peristiwa. Tidak peduli peristiwa layak dia komentari atau tidak.
Ini tipe manusia tukang cerita peristiwa. Prinsip yang dia pegang: “Pokoknya bunyi!” Tidak ada masalah dengan peristiwa. Jika melalui itu semua kita bisa memungut hikmah yang sebaik-baiknya, insya ALLAH peristiwa bermanfaat. Namun, jika dari peristiwa-peristiwa itu tidak ada yang dituju kecuali menunggu sampai mulut lelah sendiri, ini tentu kesia-siaan.
Ketiga, orang rendahan. Cirinya kalau berbicara isinya hanya mengeluh, mencela, atau menghina. Apa saja bisa jadi bahan keluhan. “Aduuuh ini pinggang, kenapa jadi sakit begini. Hari ini kayak-nya banyak masalah, nih!” Ketika kepadanya disodorkan makanan, jurus keluhannya segera berhamburan. “Makanan kok dingin begini? Coba kalau ada sambel, tentu lebih nikmat. Aduuuh, kerupuk ini, kenapa kecil-kecil begini?” Terus saja makanan dikeluhkan, walau kenyataannya semua akhirnya habis juga.
Mengeluh dan mencela, itu hari-hari orang rendahan. Seolah tiada hari berlalu tanpa keluh-kesah. Ketika turun hujan, hujan segera dicaci. “Ohh, hujan melulu, di mana-mana becek. Jemuran nggak kering-kering.” Ketika di jalanan macet, mengeluh. Ketika ada lampu merah, mengeluh. Ketika ada polisi, mengeluh. Ketika ada orang meminta-minta, mengeluh. Dan seterusnya. Seolah tiada hari berlalu tanpa keluh-kesah. Alangkah menderita hidup orang yang dipenjara oleh keluh-kesah. Dia tidak bisa membedakan mana nikmat dan mana musibah. Seluruh lembar hidupnya dimaknai sebagai kesusahan, sehingga layak dikeluhkan.
Keempat, orang yang dangkal. Adalah mereka yang semua pembicaraannya tidak keluar dari menyebut-nyebut kehebatan dirinya, jasa-jasanya, kebaikan-kebaikannya. Padahal hidup ini adalah pengabdian untuk ALLAH. Mengapa harus kita membanggakan apa yang ALLAH titipkan pada kita?
Ada orang pakai cincin segera berkomentar, “Oh, itu sih mirip cincin saya.” Ada orang beli mobil baru, “Nah, ini seperti yang di garasi saya itu.” Ada kucing berbulu tebal melompat, “Kucing ini gondrong. Oh yaa, kucing gondrong itu mirip singa. Hai, tau nggak? Saya sudah pernah ke Singapura, lho. Hebat sekali kota Singapura. Hanya orang yang hebat saja bisa pergi ke sana.” Orang-orang dangkal ini akan terus berbicara tiada henti. Tak lupa dia selalu menyelipkan kata-kata kesombongan dan membanggakan diri.
Orang-orang dangkal tiada bosan mengekspose diri, menyebut jasa, kebaikan, dan prestasinya. Dia selalu ingin tampak menonjol dan mendominasi. Jika ada orang lain yang secara wajar tampak lebih baik, hatinya teriris-iris, tidak rela, dan sangat berharap orang itu akan segera celaka. Inilah ilmu gelas kosong. Gelas kosong, maunya diisi terus. Orang yang kosong dari harga diri, inginnya minta dihargai terus.
Kita harus berhati-hati dalam berbicara. Harus kita sadari bahwa berbicara itu dibatasi oleh etika-etika. Hendaklah kita ada di atas rel yang benar. Jangan sampai kita jatuh dalam apa-apa yang ALLAH larang.
Dalam berbicara kita jangan bergunjing (ghibah). Bergunjing adalah perbuatan yang ringan, bahkan bagi sebagian orang mungkin dianggap mengasyikkan. Namun, jika dilakukan dengan sengaja, apalagi dengan kesadaran penuh dan tekad menggebu, bergunjing bisa menjadi dosa besar.
Dan janganlah kalian ber-ghibah (bergunjing) sebagian kalian terhadap sebagian yang lain. Apakah suka salah-seorang dari kalian makan daging bangkai saudaranya? Maka, kalian tentu akan sangat jijik kepadanya. Dan takutlah kalian kepada ALLAH, sesungguhnya ALLAH Maha Penerima taubat. (QS Al-Hujurat:12)
Kita tidak bisa memaksa orang lain berbuat sesuai keinginan kita. Tapi kita bisa memaksa diri kita untuk melakukan yang terbaik menyikapi sikap orang lain. Banyak bicara tidak selalu buruk, yang buruk adalah banyak berbicara kebatilan. Boleh-boleh saja kita produktif berbicara, tapi harus proporsional. Jika kita berbicara hal yang benar dan memang harus banyak, tentu kita lakukan hal itu. Pembicaraan seringkali bergeser dari rel kebaikan ketika kita tidak proporsional.
Semua orang harus menjaga lidahnya. Tidak peduli apakah itu orang-orang yang dianggap ahli agama. Orang-orang yang pandai membaca Al-Quran atau hadis, tidak otomatis pembicaraannya telah terjaga. Di sini tetap dibutuhkan proses belajar, berlatih, dan terus berjuang agar mutu kata-kata kita semakin meningkat.
Alangkah ironi jika orang-orang yang ahli agama, namun tidak menjaga lisan. Dia banyak menasihati umat dengan perilaku-perilaku yang baik, tapi saat yang sama dia tidak melakukan hal itu. Jika orang-orang preman berkata kasar, jorok, dan tak mengenai tata krama, orang masih maklum. Namun, jika orang-orang alim yang melakukannya, tentu ini adalah bencana serius.
Satu langkah konkret untuk memulai upaya menjaga lisan adalah dengan mulai mengurangi jumlah kata-kata. Makin sedikit bicara, makin tipis peluang kesalahan. Sebaliknya makin banyak bicara, peluang tergelincir lidah semakin lebar. Jika lidah kita telah meluncur tanpa kendali, kehormatan kita seketika akan runtuh. Berbahagialah bagi siapa yang bisa berkata dengan akhlak tinggi. Selalu berkata baik. Jika tidak, cukup diam saja!
Saudaraku, sadarilah bahwa lidah ini adalah amanah. Tiap-tiap kata yang terucap darinya kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan ALLAH. Jadikan ucapan-ucapan kita adalah modal untuk mengundang keridhaan ALLAH. Jangan jadikan kata-kata itu sebagai sebab datangnya murka dan kebencian-NYA.
Semoga ALLAH SWT membimbing lisan kita untuk berucap mengikuti keteladanan Rasulullah saw. Ucapan itu keluar dari lisan bagai untaian mutiara yang sarat dengan kebenaran, berharga, bermutu, dan membawa maslahat bagi siapa pun yang mendengarkannya. Amin.
Wallahu a’lam bish shawab.