Pages

Showing posts with label Kisah Sahabat dan Nabi. Show all posts
Showing posts with label Kisah Sahabat dan Nabi. Show all posts

Dari Ku untuk Mu wahai Saudara Ku

Segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya, kami memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami dan dari keburukan pewrbuatan kami. Barang siapa memperoleh petunjukAllah, maka tidak seorang pun dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa di sesatkan Allah, maka tidak seorangpun dapat menunjukinya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah kecuali Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya, dan Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba serta Rasul-Nya.

"Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam." (QS. Ali Imran : 102)
"Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya, dan dari pada keduanya Allah memperkembangbiakan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (menggunakan) namanya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu." (QS. An-Nisa' : 1)

"Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar." (QS. Al-Ahzab : 70-71)

"Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah adalah Kitabullah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wasallam, seburuk-buruk perkara (agama) adalah yang diada-adakan, setiap yang diada-adakan adalah bid'ah, setiap bid'ah adalah sesat dan setiap kesesatan tempatnya di neraka."

"Wahai Saudaraku - Semoha Allah memberikan keteguhan iman dan islam kepada kita semua. Dalam realita kehidupan saudaraku nampak terang bahwa pengikut kebenaran tak sepadan dengan jumlah penentangnya. pembela panji-panji islam tak sebanyak jumlah tentara yang penuh antusias dan semangat tinggi tuk meruntuhkannya. Wahai saudaraku - penebar Sunnah terlalu sedikit jika dibanding dengan penebar Bid'ah. Dan inilah Sunnatullah wahai Saudaraku, yang merupakan peringatan, pelajaran sekaligus ujian bagi setiap insan yang akan menyeleksi siapa diantara mereka yang menjadi jundullah dan siapa yang tersingkir dari barisan Allah."

Semoga kita termasuk dalam barisan tentara-tentara Allah yang siap untuk berkorban jiwa, raga, bahkan nyawa demi tegaknya dan tingginya Kalimat Allah.

Wahai Saudaraku...

Al-Imam al-Bukhari dan al-Imam Muslim (semoga Allah merahmatinya) telah meriwayatkan di dalam Kitab Shohiihnya, dari Mu'awiyah Radiallahu 'Anhu dari Nabi Shalallahu 'Alaihi Wasallam, bahwa beliau bersabda : "Akan senantiasa sekelompok umatku melantangkan kebenaran. Tidak memudharatkan mereka siapa yang menyelisihinya dan tidak pula siapa yang meninggalkan mereka sampai datang keputusan Allah sementara mereka tetap demikian."

Dan benar saudaraku... terbukti ! telah terjadi apa yang dikabarkan oleh Nabi Shalallahu 'Alaihi Wasallam . alangkah banyaknya persekutuan yang memerangi Thaifah Manshurah. dan apabila kita membaca tarikh Islam sejak masa dahulu, maka kita akan melihat betapa banyak ahli Bid'ah yang membuat tipu daya terhadap Thaifah Manshurah. Lantas siapakah Thaifah manshurah ini ? Imam al-Bukhari (semoga Allah merahmatinya) mengatakan di dalam Shohiihnya bahwa Thaifah Manshurah atau Golongan Yang Tertolong adalah "Ahli Ilmu"

Dan diantara ciri Thaifah Manshurah adalah "Komitmen terhadap Al-Qur'an dan As-Sunnah, mengikuti atsar salafus Shalih dan menjauhi Bid'ah".

Hal ini saudaraku merupakan realisasi dari Firman Allah Azza Wajalla di Surah Al-An'am ayat 153 : "Dan sesungguhnya inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan jangan kamu ikuti jalan-jalan (lainnya) sebab jalan-jalan itu akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya."

kemudian Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan iman Ahmad, at-Tirmidzi dan Al-Hakim (semoga Allah merahmatinya), "Wajib atas kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah khulafa' ar Rasyidun yang terbimbing, gigitlah dengan gigi gerahammu..."

dan al Imam Ahmad bin Hambal (semoga Allah merahmatinya) berkata : "Pokok-pokok sunnah adalah berpegang teguh dengan apa yang para sahabat Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam di atasnya, meneladani mereka, meninggalkan bid'ah dan setiap bid'ah adalah sesat."

jadi kesimpulannya wahai saudaraku...

Jalan mereka yakni jalan Thaifah Manshurah jalan orang-orang yang tertolong adalah ittiba' dan iqtida' kepada Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam dan generasi terbaik umat ini yakni Salafus Shalih Ridwanullah 'alaihim ajma'in...

dan akhirnya Suadaraku... hanya kepada Allah jualah kita memohon ampunan , berharap pahala dan berlindung dari siksa-Nya.

NasruLLAH (pertolongan الله)

Untuk mencapai pertolonganNya, الله di dalam Al-Qur'an telah meletakkan beberapa resep antara lain :

Pertama, pertolongan الله akan turun, bila iman kita kuat, tahan uji, tidak tergoyahkan oleh godaan apapun. Bila diperdengarkan nama الله, hati kita bergetar, dan bila dibacakan ayat-ayatNya iman kita bertambah. Akhlak kita benar-benar mencermikan keimanan tersebut, tidak mudah mengabaikan ajaran الله. Barang-barang haram kita hindari. Apapun kesulitan hidup yang harus kita hadapi, kita tetap sabar, dengan ketaatan kepada الله. Simaklah janji الله bagi mereka yang imannya kuat " dan adalah kewajiban Kami untuk menolong orang-orang yang beriman " ( QS:30:47 ).

Di sini jelas sekali bahwa orang-orang mukmin yang dimaksudkan adalah mereka yang sungguh-sungguh jujur mentaati perintahNya dan menjauhi laranganNya.

“Hai orang-orang yang beriman jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”.(Muhammad : 7)

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz menjelaskan dalam sebuah ceramahnya yang kemudian dibukukan, setelah membawakan ayat 7 Surat Muhammad. Beliau berkata, 

”Maka inilah bentuk pertolongan kepada Allah dengan melakukan perintah–perintah Nya dan meninggalkan larangan–larangan Nya dengan keimanan dan keikhlasan kepada Allah serta mentauhidkan-Nya, juga keimanan kepada Rasul-Nya.... Maka menolong agama Allah adalah dengan mentaati Allah, mengagungkan-Nya dan ikhlas kepada-Nya, serta mengharapkan apa-apa yang ada di sisi-Nya, mengamalkan syariat-Nya karena menginginkan pahala darinya dan untuk menegakkan agama-Nya.” (Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz, Asbaabu Nashrillaahi lil Mu’miniin ‘alaa A’daa ihim, Daar al Imam Ahmad, Cet. I, 2003 M, terj. Tim Pustaka Ibnu Katsir, Wahai Kaum Muslimin Raihlah Pertolongan Allah, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cet. I, Juli 2005 M, hal. 21).

Kedua, الله berjanji untuk menolong hamba-hambaNya yang bertakwa, menegakkan shalat dan membayar zakat, berjuang menegakkan ajaranNya di bumi. الله berfirman : " ketahuilah bahwa bersama orang-orang yang bertkwa "(QS:9:123).

FirmanNya lagi : " Sesungguhnya الله pasti menolong orang yang enolong agamaNya. Sesungguhnya الله benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa ". (QS:22: 40 ). 

”Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya jalan kemudahan dalam urusannya.”(Ath Thalaq:4) 

Berkata lagi Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz, 
”Jadi, siapa yang menginginkan datangnya pertolongan Allah dan keselamatan bagi agamanya serta menginginkan kesudahan yang baik, maka hendaklah bertakwa kepada Allah, dan bersabar dalam ketaatan kepada-Nya. Juga hendaknya menjauhi larangan–larangan Allah dimana pun dia berada. Inilah sebab–sebab pertolongan Allah padanya…” (Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz, Asbaabu Nashrillaahi lil Mu’miniin ‘alaa A’daa ihim, Daar al Imam Ahmad, Cet. I, 2003 M, terj. Tim Pustaka Ibnu Katsir, Wahai Kaum Muslimin Raihlah Pertolongan Allah, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cet. I, Juli 2005 M, hal. 38).

Berkata Ar–Ruzbary: ”Taqwa adalah menjauhkan diri dari apa–apa yang bisa membuat engkau jauh dari Allah.” (Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, Man Al Faiz?, Darul Wathan, Riyadh, Cet. I, 2000 M, Terj. Abdul Khalik, Siapakah Orang yang Beruntung?, Pustaka Laka, Bogor, Cet. I, 2005 M, hal. 57)
Ketiga, الله akan menolong mereka yang sabar menjalani jihad, tidak kenal lelah, dan tidak pernah putus asa. Dalam ( QS:3: 200)

الله berfirman : "Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah, kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (diperbatasan negerimu) dan bertakwalah kapada الله, supaya kamu beruntung".

Keempat, persaudaraan yang kuat, persatuan hati di antara kita, kokohnya kebersamaan, tidak adanya permusuhan dan saling menjatuhkan, merupakan juga salah satu sebab turunnya pertolongan الله. الله berfirman " Dan taatlah kepada الله dan RasulNya, dan janganlah kamu bertengkar di antara kalian, karena itu akan menyebabkan kegagalan dan hilangnya kekuatan kalian, maka bersabarlah, sungguh الله beserta orang-orang yang sabar " (QS:8:46).

Kelima, Kebersihan hati dari niatan riya', ikhlas semata kepada الله dalam segala perbuatan adalah kunci datangnya pertolongan الله. Bila berbuat baik kepada orang lain, selalu hanya menhrapakan pahala الله dan ridhaNya, tidak perduli apakah orang itu mau mengucapkan terima kasih atau tidak. Bila membantu si lemah, tidak ada dihatinya keinginan agar dibilang dermawan. Bila tampil di majlis ilmu tidak ada keinginan agar dibilang paling saleh dan paling alim. الله tidak akan menolong mereka yang hatinya dipenuhi niatan riya', sebab yang demikian berarti penuhanan terhadap manusia, karena lebih mengutamakan pujian manusia dari pada pujian الله.

الله berfirman : " Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud ria' " (QS:8: 47). Ingatlah, bahwa kemenangan itu hanya di tangan الله " wamannashru illaa min 'indillah " ( QS:3:126 ).

Wallahu a'lam bishshwab

Menjaga Hubungan dengan An Nusroh

Dalam pembahasan terakhir, kami sedikit membedakan antara Ahlul an Nusrah (pemuka masyarakat secara real, tokoh agama, tokoh militer, dan pejabat berpengaruh/formal) dan Thaifah Manshurah (kelompok masyarakat yang memiliki kesiapan berperang yang tinggi/non formal). Yang mereka sama-sama merupakan an Nusroh (penolong) dalam dakwah (insya Allah).

Dari kedua hal tersebut, ada beberapa yang menjadi tolok ukur aktifitas yang paling tidak mampu mengklasifikasikan (tanpa bermaksud membedakan, red) antara Ahlul An Nusrah dengan Thaifah Manshurah. Secara faktual, banyak sekali ahlul an nusrah yang TIBA-TIBA kehilangan kekuatan secara real, dikarenakan dukungannya terhadap Islam diketahui oleh para penguasa pengkhianat Islam. Banyak kejadian di dunia Islam, penguasa memainkan peranannya untuk mengatur komposisi kekuatan ini demi menjaga stabilitas kekuasaannya. 

Alhasil, banyak sekali Ahlul An Nusrah yang meskipun memiliki pengaruh dan jejaring yang sangat luas, namun secara dejure telah kehilangan kekuatannya. Tulisan ini dimaksudkan untuk mensinergikan antara pola hubungan tripartid (gerakan, Ahlul Nusrah, dan Thaifah Manshurah) untuk menggerakkan roda revolusi.

Sedikit tulisan ini, mudah-mudaham menjadi bekal wawasan kawan-kawan dalam menjalin dua kekuatan penolong dakwah ini:

1.  Pola Pembinaan
Pola pembinaan terhadap Ahlul An Nusrah dan Thaifah Manshurah adalah berbeda. Bilamana dukungan Ahlul An Nusrah adalah dukungan total terhadap aktifitas revolusi, barangkali ada sedikit perbedaan dengan poin-poin yang disepakati dengan Thaifah Manshurah. Terlebih kegiatan Thaifah Manshurah bisa dianggap 'illegal' oleh penguasa, dikarenakan kekuatan dan ketrampilan berperang mereka serta aktifitas mereka yang berbeda dari masyarakat kebanyakan.

Terhadap Ahlul an Nusrah pula, materi yang diajarkan memiliki tujuan sama dengan materi kajian revolusi. Pemikiran, Perasaan, dan Hukum terikat dengan Islam. Ditambah dengan dukungan terhadap roda revolusi (SKS) itu sendiri.

Terhadap Thaifah Manshurah, poin poin yang disepakati paling tidak, masih diseputar pemikiran, perasaan, dan hukum yang terikat dengan Islam. Meski pada awalnya Thaifah Manshurah dimungkinkan bilamana puncak sinergi ini terjadi, pada akhirnya akan memberikan sendiri dukungannya secara total terhadap roda revolusi.

Terhadap Ahlul an Nusrah sendiri dicermati, bahwa pola pembinaan tersebut tidaklah sevulgar yang dijalankan secara umum. Kaidah yang dipakai adalah bagaimana kekuatan Ahlul an Nusrah tersebut terjaga dalam tubuh penguasa (infiltrant) sehingga tidak ada alasan bagi penguasa untuk menyingkirkannya. Ditanamkan pula terhadap Ahlul an Nusrah untuk lebih bersikap bersabar dan berhati-hati dalam bertindak ketika memberikan dukungannya terhadap aktifitas revolusi.

Dalam menjaga keberpihakan terhadap roda revolusi, dibuatlah semacam indikator-indikator keterlibatan (dukungan) Ahlul An Nusrah dalam setiap operasi revolusi yang dijalankan. Tentu tetap mengacu kepada sikap kewaspadaan dan kehati-hatian.

2. Isu dan Opini
An Nusrah (Thaifah Manshurah dan Ahlul An Nusrah) secara umum, memiliki isu yang sama terhadap Syariah dan Khilafah. Yang menjadi pembeda adalah sekedar domain aktifitas yang dijalankannya. Oleh karenanya, mengarahkan kepada satu isu dan opini (misal isu syariat dan khilafah) menciptakan sebuah sinergi domain aktifitas yang mencolok terhadap keduanya. 

Pendapat syaikh Anwar Al Awlaki kami sambut baik terhadap respeksitas beliau dalam memandang isu khilafah yang diangkat, meski perlu juga diyakini bahwa perlawanan nyata di medan pertempuran adalah sebuah potensi yang tidak mungkin dihilangkan sebagai modal pendirian khilafah. Rasul dan Para Sahabat adalah para Kesatria medan pertempuran, demikian pula aqidah yang dibangun dibawah kilatan cahaya pedang adalah kemuliaan yang tertinggi dalam Islam.

Oleh karenanya; secara umum, mencari persamaan opini dan isu merupakan hal yang terutama dalam mensinergikan An Nusrah keduanya.

3. Komunikasi
Cara penyampaian gagasan terhadap dua jenis An Nusroh adalah berbeda. Dengan latar belakang yang real, Ahlul An Nusrah memiliki tingkat pemahaman yang berbeda dengan Thaifah Manshurah. Meski keduanya disatukan dengan kesamaan dalil dan kekuatan dalil yang ada.

Komunikasi terhadap Ahlul An Nusrah menyangkut dukungan realnya terhadap 3 aspek (SKS). Sedangkan terhadap Thaifah Manshurah menyangkut pemikiran, perasaan, dan hukum Islam.

Komunikasi terhadap Ahlul An Nusrah sering tidak mungkin dilaksanakan secara langsung. Karena penguasa pengkhianat pun memiliki banyak sekali corong telinga dan mata. Dalam beberapa kesempatan, dimungkinkan untuk senantiasa menjaga hubungan dengan Ahlul An Nusrah dengan melibatkan (menjaring) kekuatan di sekitar Ahlul An Nusrah yang setia kepadanya untuk dibina dan diraih dukungannya untuk membela Ahlul an Nusrah tersebut. 

Berbeda dengan komunikasi dengan Thaifah Manshurah. Pola hubungan yang praktis bisa dimungkinkan dan dianggap aman, karena perbedaan yang mencolok secara ideologi terhadap gerakan. Namun kekuatan aqidah dan ukhuwah menjadi faktor utama dalam menjalin komunikasi dengan Thaifah Manshurah. Dukungan dukungan praktis akan saling diberikan antara gerakan dan Thaifah Manshurah tersebut. Sehingga, pada akhirnya kekuatan dalil-lah yang diutamakan.

(kayaknya bersambung...)

Wallahu A'lam

Dukungan Revolusi

Dalam menjalankan roda revolusi, dukungan aktifitas mutlak diperlukan. Terlebih dalam rangka pengambil-alihan roda kekuasaan. Tanpa adanya dukungan terhadap revolusi, mustahil perubahan tersebut bisa dijalankan. 

Dukungan tersebut, bisa bermacam macam bentuknya. Ada dukungan yang berwujud dukungan materi, maupun dukungan non fisik. Baik berwujud uang, lobi, kemudahan pergerakan, hingga pengumpulan kekuatan pasukan untuk menjalankan roda revolusi. Dalam aktifitas keseharian, roda revolusi yang dijalankan tentulah berbagai macam bentuknya dalam meraih dukungan kekuatan. Kami tidak akan menjelaskan lebih lanjut tentang bentuk bentuk dukungan revolusi tersebut.

Secara spesifik, kami mencoba untuk mentelaah kembali sejarah (sirah) nabi (nabawiyah) ketika mendapatkan dukungan revolusinya. 
Dukungan terhadap Rasul ketika melaksanakan revolusidamainya ini berwujud bai'at. Bai'at ini merupakan bentuk dukungan para pemuka Madinah untuk menegakkan Islam dan berhukum dengan hukum Islam. Para Pemimpin Terpilih Suku Khazraj adalah As'ad bin Zurarah bin 'Ads, Sa'd bin ar-Rabi' bin 'Amr, 'Abdullah bin Rawahah bin Tsa'labah, Rafi' bin Malik bin al-'Ajlan, al-Bara` bin Ma'rur bin Shakhr, 'Abdullah bin 'Amr bin Haram, 'Ubadah bin ash-Shamit bin Qais, Sa'd bin 'Ubadah bin Dulaim, al-Mundzir bin 'Amr bin Khunais.
Bai'at Aqobah I dilakukan ketika mendapatkan sebuah wilayah yang kondusif penegakan syariah Islam. Madinah yang saat itu menjadi kota industri dan pertanian mampu memberikan rasa aman bagi dakwah Islam yang berkembang. Berbeda dengan kota Makkah yang merupakan kota perdagangan. Alhasil, wilayah yatsrib memiliki kedudukan strategis dalam jalur pemenuhan stok barang dagang untuk wilayah Makkah. 

Dilanjutkan dukungan tersebut ke arah Bai'at Aqobah II. Untuk secara Total melindungi revolusi Rasul saw, dengan harta jiwa dan apapun yang dimilikinya. Bai'at Aqobah II ini dilaksanakan meski Rasul saw masih berada di wilayah Makkah. 
Abdullah bin Rawahah berkata kepada Rasulullah , pada malam Perjanjian Aqobah (Bai’at Aqobah), “Tentukanlah syarat sesukamu yang harus kami penuhi untuk Robbmu dan untuk dirimu yaa Rasulullah”. Maka Beliau Saw bersabda: “Aku menentukan syarat untuk Robbku agar kalian menyembahnya dan agar kalian tidak menyekutukan sesuatu apapun dengannya dan aku menentukan syarat untuk diriku agar kalian melindungiku sebagaimana kalian melindungi jiwa dan harta kalian”. Para sahabat bertanya: “apa imbalannya jika kami menepatinya ya Rasulullah?” Rasulullah menjawab “SYURGA”. Merekapun berseru: “Betapa menguntungkan jual beli ini, kami tidak mau mengganti dan tidak ingin diganti”. Maka turunlah ayat ini (QS. 9 :111)

Dalam Bahasan Dukungan Revolusi, kami mencoba membedakan antara berbagai istilah yang masyhur di kalangan kaum muslimin.
1. AHLUL AN NUSROH

Ahlul an Nusroh dimasa Rasul adalah masyarakat Madinah. Secara spesifik adalah pemuka masyarakat Madinah. Yang mereka berperang di belakang Rasul (siap melindungi Rasul) dengan kekuatan yang dimilikinya. 

Ahlul an Nusroh haruslah mempunyai Power (quwwah), oleh karenanya ahlul an Nusrah bisa disebut sebagai ahlul quwwah yang memberikan nusroh (pertolongan). Seseorang yang tidak memiliki quwwah (kekuatan/ posisi) tidak bisa dikatakan sebagai ahlul an nusroh. Dan Ahlul Quwwah yang tidak bisa memberikan an Nusroh tidak bisa dikatakan sebagai Ahlul an-Nusroh.

Beberapa tingkatan quwwah dan nusroh dari Ahlul an Nusroh haruslah diimbangi dengan kekuatan pemahaman, konsep, pembelaan yang jelas dan nyata terhadap Islam. Ada kalanya Ahlul an Nusroh menurunkan kekuatan pembelaannya dan ada kalanya Ahlul an Nusroh 'melejitkan' pembelaannya. 

Pembelaan Ahlul An Nusroh haruslah seimbang terhadap fakta tahapan dakwah. Ahlul an Nusroh juga harus mengikuti keadaanyang diberikan pertolongannya. Alasan praktis, supaya tidak tercium musuh Islam dan merencanakan strategi Dharbul 'alaqot secara lebih efektif dan efisien. Beberapa upaya dharbul 'alaqot kurang efektif karena Ahlul an Nusroh terlalu bersemangat dan tergesa dalam melakukan pembelaan. Beberapa upaya dharbul 'alaqot juga kurang dilakukan karena menurunnnya tingkat pembelaan terhadap Islam.

Pengawasan terhadap Ahlul an Nusroh dalam rangka menjaga eksistensi ideologi Islam dan pembelaannya secara nyata dalam upaya perebutan kekuasaan.

Kita tidak bisa memandang sebelah mata urgensi dari aktifitas ini, dan menganggapnya furu’ yang tidak layak dipertimbangkan. Jika disimak shirah Rasulullah saw maka akan ditemukan upaya beliau mencari perlindungan dari kalangan elit tokoh Arab yang memiliki kekuatan. Tidak kurang 15 Qabilah yang pernah didatangi Rasulullah dan para pengikutnya (Bani Kindah, Bani Kalb, Bani Hanifah, Bani Amir bin Sha’sha’ah, Bani Abdul Muthalib, Bani Suwaid bin Shamit, Bani Tsaqif di Thaif, Bani Muth’im bin ‘Adi, Bani Bakr bin Wa’il, Raja Najasyi dari Habasyah, dll). Hal ini menunjukkan thalab an-nushrah merupakan salah satu perintah Allah (wahyu) kepada beliau dan harus dilakukan.

Berbagai ungkapan Rasulullah mengandung makna mencari pertolongan: “Wahai Bani Fulan, sesungguhnya aku adalah Rasulullah yang diutus kepada kalian. Dia memerintah kalian agar kalian hanya menyembah Allah dan tidak menyekutukannya dengan apapun….; juga agar kalian beriman kepadaku, membenarkanku dan melindungiku hingga aku menjelaskan apa saja yang aku bawa dari Allah ketika Dia mengutusku.” (Shirah Nabawiyah Ibnu Hisyam).

Manakala Allah berkehendak untuk memuliakan nabi-Nya dan menolong agama-Nya, Allah memberi pertolongan melalui tangan orang-orang Anshar. (Shirah Nabawiyah Ibnu Hisyam).

Dalam hal ini meminta perlindungan tidak boleh sampai menggadaikan Islam, terlebih terlibat didalamnya

(Paman) , demi Allah seandainya mereka meletakkan matahari ditangan kananku dan bulan ditangan kiriku agar aku meninggalkan urusan ini, aku tidak akan meninggalkannya sampai Allah memenangkan agama ini atau aku hancur karenanya. (Shirah Nabawiyah Ibnu Hisyam).

2. THAIFAH MANSHURAH
Ath-Thoifah Al-Manshuroh artinya kelompok yang mendapatkan pertolongan. Menurut penelitian mendalam Syaikh Audah, para shahabat yang meriwayatkan hadits tentang thaifah manshurah ini adalah Mughirah bin Syu’bah, Mu’awiyah bin Abi Sufyan, Tsauban, Jabir bin Samurah, Jabir bin Abdullah, Sa’ad bin Abi Waqash, Uqbah bin Amir, Abdullah bin Amru, Zaid bin Arqam, Imran bin Hushain, Qurah bin Iyas, Abu Hurairah, Umar bin Khathab, Salamah bin Nufail al Kindy, Nawas bin Sam’an, Abu Umamah Al Bahiliy, Murah bin Ka’ab al Bahzy, Syurahbil bin Samth al Kindy dan Muadz bin Jabal. Para ulama seprti Ibnu Taimiyah dalam Iqtidha’ ash Shirat al Mustaqim I/69), Suyuthi dalam Qatful Azhar al Mutanatsirah hal. 216 no. 81, Az Zubaidi dalam Luqatu al Laali al Mutanatsirah fi Ahaditsi al Mutawatirah hal. 68 dan Al Kanany dalam Nadhmul al Mutanatsir fi Hadits al Mutawatir hal. 93. [Audah, Al Mishriy : 38-41, 58-62, Al Mahmud I/40-41]. 

Penamaan ini berdasarkan hadits Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam :
لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِيْ ظَاهِرِيْنَ عَلَى الْحَقِّ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ كَذَلِكَ

“Terus menerus ada sekelompok dari ummatku yang mereka tetap nampak di atas kebenaran, tidak membahayakan mereka orang mencerca mereka sampai datang ketentuan Allah (hari kiamat) dan mereka dalam keadaan seperti itu”.

Dikeluarkan oleh Muslim dari hadits Tsauban dan semakna dengannya diriwayatkan oleh Bukhary dan Muslim dari hadits Mughiroh bin Syu’bah dan Mu’awiyah dan diriwayatkan oleh Muslim dari Jabir bin ‘Abdillah. Darimi 3437, Ahmad IV/244,252,348 dengan lafal.” Berperang di ats jalan kebenaran..”, Ath Thabrani dalam Mu’jam al Kabir no. 959, 960, 962, 961 dengan lafal,” Sampai datang kiamat kepada mereka. Dan hadits ini merupakan hadits mutawatir sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Iqtidho` Ash-Shirath Al-Mustaqim 1/69, Imam As-Suyuthy dalam Al-Azhar Al-Mutanatsirah hal.216 dan dalam Tadrib Ar-Rawi, Al Kattany dalam Nazhom Al-Mutanatsirah hal.93 dan Az-Zabidy dalam Laqthul `Ala`i hal.68-71. Lihat : Bashoir Dzawisy Syaraf Bimarwiyati Manhaj As-Salaf.

Muhadits abad XV H, Syaikh Nashirudin Albani juga menshahihkan hadits-hadits tentang hal ini dalam Shahih Jami’ ash Shaghir no. 5343 dan Silsilah Ahadits Shahihah no. 204. Beliau menyebutkan para ulama yang mnshahihkan hadits-hadits ini, antara lain Ibnu Taimiyah, al Iraqy, Adz Dzahabi, al Hakim an Naisabury, Asy Syathibi serta Ibnu Hajar.

Berkata Imam Bukhary tentang Ath-Thoifah Al-Manshuroh “Bab Sabda Nabi, ‘Senantiasa ada kelompok dari umatku yang menampakkan kebenaran dan mereka berperang’” : “Mereka adalah para ‘ulama”.

dari Dua Istilah tersebut, menurut pemikiran kami ada hal2 yang membedakan antara AHLUL AN NUSRAH dengan THAIFAH MANSHURAH

1. Ahlul Nusrah merupakan pemuka masyarakat (tokoh formal) yang melindungi aktifitas revolusi. Sedangkan Thaifah Manshurah adalah kelompok masyarakat yang dicerca.

2. Ahlul Nusrah dilarang melakukan perlawanan secara langsung, sampai datang ketetapan Allah dan perintah perang diantara mereka. Sedangkan Thaifah Manshurah adalah kelompok yang senantiasa diatas kebenaran dan berperang adalah aktifitas mereka.

wallahu a'lam

Pernikahan yang Sederhana...

Ketika Nabi Muhammad menikahkan Fatimah dengan Ali bin Abi Thalib, beliau mengundang Abu Bakar, Umar, dan Usamah untuk membawakan “persiapan” Fatimah. Mereka bertanya-tanya, apa gerangan yang dipersiapkan Rasulullah untuk putri kinasih dan keponakan tersayangnya itu? Ternyata bekalnya cuma penggilingan gandum, kulit binatang yang disamak,kendi, dan sebuah piring.

Mengetahui hal itu, Abu Bakar menangis. “Ya Rasulullah. Inikah persiapan untuk Fatimah?” tanya Abu Bakar terguguk. Nabi Muhammad pun menenangkannya, “Wahai Abu Bakar. Ini sudah cukup bagi orang yang berada di dunia.”

Fatimah, sang pengantin itu, kemudian keluar rumah dengan memakai pakaian yang cukup bagus, tapi ada 12 tambalannya. Tak ada perhiasan, apalagi pernik-pernik mahal.


Setelah menikah, Fatimah senantiasa menggiling gandum dengan tangannya, membaca Alquran dengan lidahnya, menafsirkan kitab suci dengan hatinya, dan menangis dengan matanya.

Itulah sebagian kemuliaaan dari Fatimah. Ada ribuan atau jutaan Fatimah yang telah menunjukkan kemuliaan akhlaknya. Dari mereka kelak lahir ulama-ulama ulung yang menjadi guru dan rujukan seluruh imam, termasuk Imam Maliki, Hanafi, Syafi’i, dan Hambali.

Bagaimana gadis sekarang? Mereka, memang tak lagi menggiling gandum, tapi menekan tuts-tuts komputer. Tapi bagaimana lidah, hati, dan matanya? Bulan lalu, ada seorang gadis di Bekasi, yang nyaris mati karena bunuh diri. Rupanya ia minta dinikahkan dengan pujaan hatinya dengan pesta meriah. Karena ayahnya tak mau, dia pun nekat bunuh diri dengan minum Baygon. Untung jiwanya terselamatkan. Seandainya saja tak terselamatkan, naudzubillah min dzalik! Allah mengharamkan surga untuk orang yang mati bunuh diri.

Si gadis tadi rupanya menjadikan kemewahan pernikahannya sebagai sebuah prinsip hidup yang tak bisa dilanggar. Sayang, gadis malang itu mungkin belum menghayati cara Rasulullah menikahkan putrinya. Pesta pernikahan putri Rasulullah itu menggambarkan kepada kita, betapa kesederhanaan telah menjadi “darah daging” kehidupan Nabi yang mulia. Bahkan ketika “pesta pernikahan” putrinya, yang selayaknya diadakan dengan meriah, Muhammad tetap menunjukkan kesederhanaan.

Bagi Rasulullah, membuat pesta besar untuk pernikahan putrinya bukanlah hal sulit. Tapi, sebagai manusia agung yang suci, “kemegahan” pesta pernikahan putrinya, bukan ditunjukkan oleh hal-hal yang bersifat duniawi. Rasul justru menunjukkan “kemegahan” kesederhanaan dan “kemegahan” sifat qanaah, yang merupakan kekayaan hakiki. Rasululllah bersabda, “Kekayaan yang sejati adalah kekayaan iman, yang tecermin dalam sifat qanaah”.


Iman, kesederhanaan, dan qanaah adalah suatu yang tak bisa dipisahkan. Seorang beriman, tecermin dari kesederhanaan hidupnya dan kesederhanaan itu tecermin dari sifatnya yang qanaah. Qanaah adalah sebuah sikap yang menerima ketentuan Allah dengan sabar; dan menarik diri dari kecintaan pada dunia. Rasulullah bersabda, “Qanaah adalah harta yang tak akan hilang dan tabungan yang tak akan lenyap.”

kisah sahabat Al-Hasan Al-Bashri

Datanglah seorang pembawa khabar gembira untuk menyampaikan berita gembira kepada istri Nabi Ummu Salamah, bahwa budak perempuannya “Khairah” telah melahirkan anak laki-laki.
Maka berbunga-bungalah hati Ibu kaum mu’minin RA, dan kegembiraan itu telah membuat wajahnya yang cakap dan wibawa bersinar-sinar.
Beliau segera mengutus utusan supaya ibu dan anaknya dibawa kepadanya untuk mengisi waktu nifas di rumahnya.

Waktu itu Khairah sangat dimuliakan dan dicintai oleh Ummu Salamah. Beliau ingin segera melihat anak yang baru lahir. Tidak lama kemudian datanglah Khairah dengan menggendong anaknya.
Ketika kedua mata Ummu Salamah melihat anak bayi ini, hatinya merasa sayang dan lega. Anak kecil yang baru lahir sangat tampan dan ganteng, jauh pandangannya, sempurna ciptaannya, menyenangkan orang yang melihatnya dan memikat orang yang memandangnya.
Kemudian Ummu Salamah mengarahkan pandangannya ke arah budak perempuannya dan berkata, “Apakah kamu telah memberinya nama, wahai Khairah?”
Khairah menjawab, “Belum wahai Ibu. Masalah nama saya serahkan kepada engkau, supaya engkau memilih nama yang engkau sukai.”
Lalu Ummu Sa0lamah berkata, “Kami memberinya nama dengan memohon barakah dari Allah ‘al-Hasan.’”
Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya dan berdo’a memohon kebaikan.
Kegembiraan dengan lahirnya Al-Hasan bukan hanya sebatas di rumah Ummul mu’minin Ummu Salamah RA saja, akan tetapi juga sampai ke rumah yang lain di Madinah. Yaitu rumah seorang sahabat besar Zaid bin Tsabit, juru tulis wahyu Rasulullah SAW.
Kaitannya, karena “Yasar” ayah anak bayi ini adalah budaknya juga dan termasuk orang yang paling dia hormati dan dia cintai.
Al-Hasan bin Yasar yang kemudian dipanggil dengan Al-Hasan Al-Bashri berkembang besar di salah satu rumah Rasulullah SAW. Dia terdidik di pangkuan salah seorang istri Nabi SAW, yaitu Hindun binti Suhail yang dikenal dengan Ummu Salamah.
Bila anda ingin tahu, ketahuilah bahwa Ummu Salamah adalah perempuan arab yang paling sempurna akal dan keutamaannya serta paling keras kemauannya.
Selain itu, beliau juga termasuk istri Rasul yang paling luas ilmunya dan banyak meriwayatkan hadits darinya.
Beliau meriwayatkan dari Nabi SAW sekitar tiga ratus delapan puluh tujuh hadits.
Hal lainnya, beliau termasuk wanita yang jarang ditemukan yang dapat menulis pada zaman jahiliyah.
Hubungan anak bayi ini dengan Ummul mu’minin bukan hanya sampai di sini. Akan tetapi memanjang lebih jauh dari itu. Khairah ibu al-Hasan waktu itu banyak keluar rumah dalam rangka mengerjakan kebutuhan Ummul mu’minin, dan anak yang masih menetek ini pernah menangis karena lapar dan tangisnya semakin keras, maka Ummu Salamah mengambilnya dan memangkunya dan menyuapinya dengan tetek (mengempeng), supaya anak itu bersabar dan sibuk dengannya sambil menunggu ibunya.
Saking cintanya Ummul mu’minin kepadanya, teteknya malah mengeluarkan air susu dan mengalir ke mulutnya, maka anak itu menetek dan diam karenanya.
Maka dengan demikian Ummu Salamah menjadi ibu bagi Al-Hasan dari dua arah; beliau adalah Ibunya karena dia termasuk orang yang beriman (Ummul Mu’minin). Dan beliau adalah Ibunya karena menyusui juga.
Hubungan Ummahat mu’minin yang akrab dan rumah-rumah mereka yang berdekat-dekatan membuat anak kecil yang bahagia ini dengan bebas dapat berpindah dariu satu rumah ke rumah yang lain.
Dia berakhlak dengan akhlak semua para pendidiknya. Mendapatkan petunjuk dari petunjuk yang mereka semua berikan.
Sebagaimana dia mengisahkan tentang dirinya, bahwa dia memenuhi rumah-rumah ini dengan gerakannya yang lincah dan permainannya yang gesit, sehingga dia dapat menyentuh atap rumah-rumah Ummahat mu’minin dengan kedua tangannya sambil melompat.
Al-Hasan terus bermain di udara yang harum dengan wewangian kenabian yang kemilau dengan sinarnya ini. Dia meneguk dari mata air tawar yang memenuhi rumah-rumah Ummahat mu’minin itu dan berguru kepada pembesar-pembesar sahabat di masjid Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam.
Dia meriwayatkan dari Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abu Musa al-Asy’ari, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, Anas bin Malik, Jabir bin Abdullah dan selain mereka.
Akan tetapi dia banyak bergant meneladani Amirul mu’minin Ali bin Abi Thalib RA.
Dia meneladaninya dalam kesalihan agama, kebagusan ibadahnya dan zuhudnya dari dunia dan perhiasannya. Dia terpesona oleh bayannya yang bersinar, hikmahnya yang mengesankan, perkataannya yang padat dan nasehatnya yang menggetarkan hati. Maka kemudian terbentuklah pada dirinya gambaran orang yang diteladaninya itu dalam hal ketakwaan, ibadah, retorika dan kefasihan berbicara.
Ketika al-Hasan telah berumur empat belas tahun, dan memasuki usia remaja, dia pindah bersama ayahnya ke Bashrah dan menetap di sana bersama keluarganya.
Dan dari sinilah kemudian kenapa di akhir namanya dicantumkan “al-Bashri”, yaitu nisbah kepada kota Bashrah sehingga dikenal banyak orang dengan sebutan Al-Hasan Al-Bashri.
Waktu al-Hasan pindah ke sana, kota Bashrah merupakan benteng ilmu terbesar di negeri Islam. Dan masjidnya yang agung penuh dengan pembesar-pembesar sahabat dan tabi’in yang pindah ke sana. Kajian-kajian ilmu dengan aneka ragamnya meramaikan ruangan masjid dan mushallanya.
Al-Hasan telah menetap di masjid dan mengikuti secara khusus pengajian yang dipandu Abdullah bin Abbas, seorang ‘Alim umat Muhammad. Darinya dia belajat tafsir, hadits dan Qiraa`at kepadanya, plus fiqih, bahasa, sastra dan lain-lainnya baik kepadanya ataupun kepada ulama selainnya.
Sehingga dia menjadi seorang ‘alim yang sempurna, dan ahli fiqih yang tsiqah.
Maka orang-orang berdatangan kepadanya dan mengambil ilmunya yang demikian matang.
Mereka berkerumun di sampingnya untuk mendengarkan nasehat-nasehatnya yang dapat melunakkan hati yang keras dan menyucurkan air mata maksiat.
Mereka menghafal hikmahnya yang bak mencengkeram akal.
Mereka mencontoh sirahnya yang aromanya lebih harum daripada minyak kasturi.
Berita tentang al-Hasan al-Bashri telah menyebar di berbagai pelosok negeri, dan namanya demikian agung di kalangan manusia.
Maka para Khalifah dan pejabat mulai bertanya tentangnya dan mengikuti beritanya.
Khalid bin Sufwan bercerita, dia berkata, “Aku telah bertemu dengan Maslamah bin Abdul Malik di Hirah (Negeri tua di Irak, kurang lebih sejauh tiga mil dari Kufah namun telah punah dan sekarang tidak ada lagi bekasnya), dia berkata kepadaku:
Khabarilah aku wahai Khalid tentang al-Hasan al-Bashri, karena aku kira anda mengetahui sesuatu darinya, yang tidak diketahui oleh orang lain.”
Maka aku berkata, “Mudah-mudahan Allah meluuruskan anda wahai tuan pimpinan. Aku adalah orang yang paling baik yang menyampaikan beritanya kepadamu secara yakin. Karena aku adalah tetangganya, teman duduk di majlisnya dan orang Bashrah yang paling mengetahuinya.”
Maka dia berkata, “Coba ceritakanlah apa yang anda miliki.”
Lalu aku berkata,
“Sesungguhnya dia adalah seseorang yang rahasianya seperti dhahirnya dan ucapannya seperti perbuatannya. Jika menyuruh yang ma’ruf, maka dia adalah orang pertama yang melakukannya. Jika dia melarang kemungkaran, maka dia adalah orang pertama yang meninggalkannya.
Sungguh, aku melihatnya sebagai orang yang menjaga diri dari pemberian orang, zuhud dari apa yang dimiliki orang-orang.
Aku melihat orang-orang membutuhkannya dan meminta apa yang dia miliki.”
Lalu Maslamah berkata, “Cukup wahai Khalid, cukup wahai Khalid!! Bagaimana mungkin suatu kaum akan tersesat kalau di antara mereka ada orang seperti ini?!”
Ketika al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi menjabat gubernur di Irak dan, seorang yang sangat kejam dan sombong.
Maka al-Hasan al-Bashri adalah termasuk orang langka yang berani menentang kekejamannya tersebut. Beliau membeberkan keburukan perbuatan al-Hajjaj di hadapan orang-orang dan berkata benar di depannya.
Di antara contohnya, al-Hajjaj membangun suatu bangunan di daerah Wasith untuk kepentingan pribadinya, dan ketika bangunan tersebut rampung, al-Hajjaj mengajak orang-orang agar keluar untuk bersenang-senang bersamanya dan mendo’akan keberkahan untuknya.
Rupanya, al-Hasan tidak ingin kalau kesempatan berkumpulnya orang-orang ini lewat begitu saja. Maka dia keluar menemui mereka untuk menasehati, mengingatkan, mengajak zuhud dari gelimang harta dunia dan menganjurkan mereka supaya mencari keridlaan Allah Azza wa Jalla.
Ketika al-Hasan telah sampai di tempat, dan melihat orang-orang berkumpul mengelilingi istana yang megah, terbuat dari bahan-bahan yang mahal, dikelilingi halaman yang luas dan sepanjang bangun dihiasi dengan pernik-pernik. Al-Hasan berdiri di depan mereka dan berceramah banyak, di antara yang beliau ucapkan adalah, “Kita telah melihat apa yang dibangun oleh manusia paling keji ini tidak ubahnya seperti apa yang kita temukan pada masa Fir’aun yang telah membangun bangunan yang besar dan tinggi, kemudian Allah membinasakan Fir’aun dan menghancurkan apa yang dia bangun dan dia kokohkan itu.
Mudah-mudahan al-Hajjaj mengetahui bahwa penduduk langit telah mengutuknya dan bahwa penduduk bumi telah menipunya.”
Al-Hasan terus berbicara dengan gaya seperti ini, sehingga salah seorang yang hadir merasa khawatir kalau al-Hajjaj akan menyiksanya. Karena itu, orang tadi berkata kepadanya, “Cukup wahai Abu Sa’id! cukup.!”
Lalu Al-Hasan berkata kepadanya, “Allah telah berjanji kepada Ahli ilmu, bahwa Dia akan menjelaskannya kepada manusia dan tidak menyembunyikannya.”
Keesokan harinya, al-Hajjaj memasuki ruangannya dengan menahan amarah, lalu berkata kepada orang-orangnya, “Celakalah kamu! Seorang hamba sahaya milik penduduk Bashrah berdiri dan berkata tentang kita dengan seenaknya, kemudian tidak seorangpun membalasnya atau mengingkarinya!!
Demi Allah, aku akan menyiramkan darahnya kepadamu wahai para pengecut!”
Lalu dia menyuruh supaya pedang dan lemek darah dihadirkan, lalu keduanya dihadirkan. Selanjutnya, dia memanggil tukang pukul, lalu tukang pukul itu segera berdiri di depannya.
Kemudian mengirim sebagian polisinya menemui al-Hasan dan menyuruh mereka supaya membawanya-serta sekembalinya nanti.”
Tidak lama kemudian datanglah al-Hasan, maka seluruh pandangan orang tertuju padanya. Hati-hati mereka bergetar.
Ketika al-Hasan melihat pedang dan lemek darah, dia menggerakkan kedua bibirnya, kemudian menghadap kepada al-Hajjaj dengan penuh ‘izzah seorang mu’min, kewibawaan Islam dan keteguhan seorang da’i yang menyeru kepada Allah.”
Ketika al-Hajjaj melihatnya dengan kondisi seperti itu, dia menjadi sangat gentar, lalu berkata kepadanya, “Kemari wahai Abu Sa’id! Kemarilah!”, Kemudian terus mempersilahkan jalan kepadanya jalan seraya berkata, Kemarilah!.” Sementara orang-orang menyaksikan hal itu dengan penuh rasa kaget dan aneh, hingga akhirnya al-Hajjaj mempersilahkannya duduk di atas permadaninya.
Begitu al-Hasan telah duduk, al-Hajjaj menoleh ke arahnya, dan mulai menanyakan berbagai permasalahan agama kepadanya. Sementara al-Hasan menjawab setiap pertanyaan tersebut dengan mantap dan pasti. Penjelasan yang diberikannya demikian memikat, bersumber dari ilmu yang mumpuni.
Lalu al-Hajjaj berkata kepadanya, “Engkau adalah tuannya para ulama’ wahai Abu Sa’id.!”
Kemudian dia meminta supaya dibawa ke hadapannya beberapa macam minyak wangi, lalu meminyakinya ke jenggot al-Hasan. Setelah itu, dia berpisah dengannya.
Ketika al-Hasan telah keluar, pengawal al-Hajjaj mengikutinya dan berkata kepadanya, “Wahai Abu Sa’id, sungguh, al-Hajjaj memanggil anda bukan untuk tujuan seperti yang barusan dilakukannya terhadap anda. Aku melihat anda ketika menghadap dan memandangi pedang dan lemek darah, seakan anda menggerakkan kedua bibir anda, kiranya apa yang anda baca?”
Maka al-Hasan menjawab, “Aku telah membaca (artinya) ‘Wahai Pembelaku ni’matku, dan pelindungku pada saat aku dalam bahaya, jadikanlah siksanya dingin dan keselamatan kepadaku, sebagaimana Engkau telah menjadikan api menjadi dingin dan keselamatan kepada Ibrahim.’”
Sikap al-Hasan al-Bashri seperti ini seringkali terjadi dengan para penguasa dan pejabat, dan dia keluar dari setiap kejadian tersebut dalam kondisi seorang yang Agung di mata penguasa, besar hati dengan Allah serta terjaga di bawah naungan perlidungan-Nya.
Contoh lainnya, setelah Khalifah yang zuhud, Umar binAbdul Aziz berpulang ke rahmatullah dan kekuasaan berpindah ke tangan Yazid bin Abdul Malik, dia menugaskan Umar bin Hubairah al-Fazari sebagai gubernur Irak.
Kemudian dia memberinya mandat yang lebih, di samping menjadikan kawasan Khurasan di bawah kekuasaannya.
Cara Yazid memperlakukan rakyatnya tidak sama seperti yang pernah dilakukan pendahulunya yang agung.
Dia sering mengirim surat kepada Umar bin Hubairah dan memerintahkannya supaya melaksanakan apa yang ada di dalamnya, meskipun terkadang harus melanggar hak.
Untuk itu, Umar bin Hubairah mengundang dua orang, yaitu al-HAsan al-Bashri dan Amir bin Syurahbil yang dikenal dengan sebutan “asy-Sya’bi.” Dia berkata kepada keduanya, “Sesungguhnya Amirul mu’minin, Yazid bin Abdul Malik telah ditunjuk Allah sebagai khalifah atas hamba-hamba-Nya, dan mewajibkan manusia mentaatinya.
Dia telah menunjukku untuk mengurusi wilayah Irak sebagaimana yang anda lihat, kemudian dia menambahi kekuasaanku hingga kawasan Persia.
Sedangkan dia terkadang mengirimkan surat kepadaku berisi perintah supaya aku melaksanakan sesuatu yang membuatku ragu terhadap keadilannya.
Karena itu, apakah anda berdua dapat memberikan jalan keluar di dalam agama seputar batas ketaatanku kepadanya di dalam melaksanakan perintahnya?”
Maka asy-Sya’bi menjawab dengan jawaban yang lunak terhadap Khalifah dan memberikan toleransi kepada gubernur.
Sedangkan al-Hasan hanya terdiam. Lalu Umar bin Hubairah menoleh ke arahnya dan berkata, “Apa pendapatmu, wahai Abu Sa’id?”
Maka Al-Hasan menjawab, “Wahai Ibn Hubairah, takutlah kepada Allah dalam masalah Yazid dan janganlah kamu takut Yazid dalam masalah Allah. Dan ketahuilah bahwa Allah Azza wa Jalla dapat melindungimu dari Yazid, sedangkan Yazid tidak dapat melindungimu dari Allah.
Wahai Ibn Hubairah, sesungguhnya dikhawatirkan akan datang padamu malaikat yang kasar lagi keras, yang tidak pernah durhaka terhadap Allah dalam apa yang Dia perintahkan kepadanya, lalu malaikat itu menurunkanmu dari kursimu ini dan memindahkanmu dari istanamu yang luas ke kuburanmu yang sempit.
Bilamana di sana sudah tidak ada Yazid, maka yang ada hanya amalmu yang kamu gunakan untuk menyalahi perintah Tuhannya Yazid.
Wahai Ibn Hubairah, sesungguhnya jika kamu bersama Allah Ta’ala dan mentaati-Nya, maka Allah akan menghindarkanmu dari siksa Yazid bin Abdul Malik di dunia dan akhirat.
Dan jika kamu bersama Yazid dalam bermaksiat kepada Allah Ta’ala, maka sesungguhnya Allah akan menyerahkan kamu kepada Yazid.
Dan ketahuilah wahai Ibn Hubairah, bahwasanya tidak ada ketaatan kepada makhluk manapun dalam bermaksiat kepada Allah Azza wa Jalla.”
Mendengar ucapan al-Hasan tersebut, menangislah Umar bin Hubairah hingga air matanya membasahi jenggotnya. Dia berpaling dari pendapat asy-Sya’bi kepada pendapat al-Hasan dan dia sangat mengagungkan serta menghormatinya.
Ketika keduanya telah keluar darinya, keduanya sama-sama menuju ke masjid.
Lalu orang-orang mengerumuninya dan menanyakan tentang apa yang dibicarakan keduanya dengan gubernur Irak.
Maka asy-Sya’bi menoleh kepada mereka seraya berujar,
“Wahai manusia! Barangsiapa di antara kamu semua ingin mementingkan Allah Azza wa Jalla di atas kepentingan makhluk-Nya dari segala tempat, maka hendaklah dia melakukan hal itu.
Demi Dzat Yang jiwaku berada di tangan-Nya, apa yang dikatakan al-Hasan kepada Umar bin Hubairah adalah perkataan yang keluar lantaran kejahilanku.
Aku menginginkan dari apa yang aku katakan untuk mencari wajah Ibnu hubairah, sementara al-Hasan menginginkan dari apa yang dia katakan semata untuk mendapatkan wajah Allah. Maka Allah menjauhkan aku dari Ibn Hubairah dan mendekatkan al-Hasan kepadanya dan membuatnya cinta terhadapnya.”
Al-Hasan al-Bashri berumur panjang, yaitu hingga mencapai umur sekitar 80 tahun. Dan, dalam umur yang sepanjang itu dia mengisi kehidupan dunia ini dengan ilmu, hikmah dan fiqih.
Warisan paling besar yang dia wariskan kepada generasi demi generasi adalah nasehat dan wasiatnya yang ikut bergulir seiring dengan putaran hari-hari di dalam belahan-belahan hati manusia.
Dan nasehat-nasehatnya yang menggetarkan hati dan terus akan menggetarkannya, membuat air mata bercucuran, menunjukkan si tersesat ke jalan Allah dan mengingatkan si terperdaya dan lalai dengan hakikat dunia serta tujuan keberadaan manusia di dunia ini seakan menjadikan orang tengah hadir bersamanya.
Di antara contohnya, perkataannya kepada orang yang bertanya tentang dunia dan hakikat keberadaannya,
“Kamu bertanya tentang dunia dan akhirat? Sesungguhnya perumpamaan dunia dan akhirat adalah bagaikan timur dan barat.
Setiap salah satunya bertambah dekat, maka yang satunya lagi semakin jauh. Dan kamu berkata kepadaku, Sebutkanlah karateristik dunia ini kepadaku!!
Apa yang harus aku sebutkan kepadamu tentang rumah yang awalnya melelahkan sedangkan akhirnya membinasakan, di dalam kehalalannya ada perhitungan dan di dalam keharamannya ada siksaan.?
Siapa yang tidak membutuhkannya terkena fitnah dan siapa yang membutuhkannya akan sedih.”
Contoh perkataannya yang lain, yaitu ketika ada orang lain bertanya tentang kondisinya dan kondisi orang-orang,
“Celakalah kita! Apa yang kita perbuat terhadap diri kita sendiri!!
Kita telah merendahkan agama kita dan meninggikan dunia, kita membiarkan akhlak kotor dan memperbarui tempat tidur dan pakaian.
Salah seorang di antara kita bersandar dengan tangan kirinya dan makan dari harta yang bukan miliknya, makanannya di dapat dari hasil menyerobot, pelayannya dipaksa tanpa upah, meminta yang manis setelah asam, meminta yang panas setelah dingin, dan meminta yang basah setelah kering sehingga ketika dia telah kenyang, menguap karena kepenuhan, kemudian berkata, ‘Wahai pelayan! ambilkan pencerna makanan! Wahai orang bodoh- Demi Allah- Jangan sekali-kali kamu mencerna kecuali agamamu! Di mana tetanggamu yang mengaharap uluran tanganmu?!! Di mana anak yatim kaummu yang lapar?!! Di mana orang miskinmu yang melihatmu?!! Di mana wasiat yang Allah Azza wa Jalla sampaikan kepadamu?!!
Barangkali kamu mengetahui bahwa kamu berjumlah banyak. Dan bahwasanya setiap matahari hari ini terbenam, maka berkuranglah jumlahmu sementara sebagian kamu pergi bersamanya.’”
Pada hari Jum’at bulan Rajab tahun 110 H, al-Hasan al-Bashri memenuhi panggilan Tuhannya. Dan pada pagi harinya, tersebarlah berita wafatnya di kalangan orang-orang sehingga Bashrah bergetar karena kematiannya.
Dia kemudian dimandikan, dikafani dan dishalati setelah shalat Jum’at di masjid Jami’ yang sepanjang hidupnya dia habiskan waktunya di sana sebagai seorang ‘alim, pendidik dan penyeru kepada Allah.
Kemudian orang-orang semuanya mengiringi janazahnya.
Dan shalat ashar pada hari itu tidak dilaksanakan di masjid jami’ Bashrah, karena di dalamnya tidak ada seorangpun yang melaksanakan shalat.
Dan orang-orang tidak mengetahui bahwa shalat libur pada hari itu di masjid Bashrah semenjak kaum muslimin membangunnya kecuali pada hari itu, yaitu hari kepulangan al-Hasan al-Bashri menuju sisi Tuhannya.
Catatan:
Sebagai bahan tambahan biografi Al-hasan Al-bashri, lihatlah:
* Ath-Thabaqat Al-Kubra, oleh Ibnu Sa’d: 7/156, 179, 182, 188, 195, 197, 202, dan halaman-halaman lainnya (Lihat daftar isi di jilid terakhir)
* Shifat Ash-Shafwah, oleh Ibnu Al-Jauzi: 3/233- 237 (Cetakan Dar An-Nashir di Halb)
* Hulliyatu Al-Auliya, oleh Al-Ashfahani: 2/131-161.
* Tarikh Khalifah Ibnu Khayyath: 123, 189, 287, 331, 354, 189.
* Wafayat Al-A’yan, oleh Ibnu Khalkan: 1/354-356.
* Syadzarat Adz-Dzahab: 1/138-139.
* Mizan Al-I’tidal: 1/254 dan setelahnya.
* Amali Al-Murtadla: 1/152, 153, 158, 160.
* Al-bayan wa At-Tabyin: 2/173 dan 3/144.
* Al-Muhabbar, oleh Muhammad bin Habib: 235 dan 378.
* Kitab Al-Wafayat, oleh Ahmad bin Hasan bin Ali bin Al-Khathib: 108-109.
* Al-Hasan Al-Bashri, oleh Ihsan Abbas.

Yazid bin Harun, Ulama yang Ditakuti Penguasa

Pada tahun 118 Hijriyah, lahir seorang ulama yang bernama Yazid bin Harun bin Zadzi. Panggilan akrab ulama yang beretnis Bukhara, sebuah kawasan yang sekarang berada di Afghanistan, adalah Abu Khalid. Beliau lahir dan besar di daerah sekitar Baghdad, Irak.

Guru dari Imam Ahmad bin Hambal ini mempunyai kharisma yang luar biasa. Kharisma itu muncul karena kesaksian dari para guru dan murid-murid beliau yang mengenal beliau sebagai ulama yang tsiqah. Hampir tak seorang pun dari guru dan murid beliau yang mendapati kekurangan beliau. Hadits yang beliau riwayatkan adalah hadits yang shahih.

Kuatnya hafalan Abu Khalid Yazid bin Harun sudah dikenal di seluruh penjuru negeri muslim saat itu. Bahkan, dari sisi itu, beliau mengalahkan salah seorang guru Imam Syafi’i, Waqi’ bin Al-Jarrah. Imam Ahmad bin Hambal menyatakan bahwa kuatnya periwayatan hadits dari Yazid bin Harun sampai pada peringkat mutqin yang melebihi dari sekadar hafizh.

Imam Asy-Syafi’i pernah menyaksikan bahwa Yazid bin Harun hafal sekitar 24 ribu hadits, berikut sanadnya.
Selain kelebihan hafalan dan akhlak, Yazid bin Harun dikenal sebagai sosok ulama yang mempunyai kekuatan ibadah luar biasa. Beliau biasa shalat dari mulai Isya hingga sampai waktu Shubuh, nyaris tanpa istirahat. Dan terbiasa shalat dari mulai Zhuhur hingga datang waktu Ashar, juga tanpa istirahat. Hal itu biasa dilakukan sang ulama selama 47 tahun.

Sepanjang shalat dan munajat itu, Yazid bin Harun kerap menangis karena ketundukannya kepada Allah swt. Sedemikian seringnya menangis, ulama yang tegas dalam soal amar ma’ruf dan nahyu munkar ini mengalami kebutaan secara bertahap. Mulai dari mata kiri, kemudian yang kanan.

Kalau beliau sedang memberikan ta’lim di Baghdad, sekitar 70 ribu orang hadir untuk menyimak kajian yang beliau sampaikan. Termasuk di antara mereka Imam Ahmad bin Hambal.

Walau sebagai guru, Yazid bin Harun sangat menghormati Imam Ahmad bin Hambal. Pernah suatu kali, ketika beliau sedikit bercanda di saat mengisi sebuah pengajian, salah seorang peserta terdengar berdehem. Yazid pun mengatakan, ”Siapa yang baru saja berdehem?”
Hal itu ia tanyakan karena kondisi fisik beliau yang buta dan rasa sensitif beliau kalau-kalau ada yang tidak beres dari tingkah beliau. Seseorang pun menjawab, ”Itu suara Ahmad bin Hambal!”
Yazid bin Harun pun langsung menyatakan, ”Kenapa kalian tidak sampaikan kepadaku kalau Ahmad bin Hambal hadir di sini, agar aku tidak bercanda di hadapan kalian!”
Kharisma yang luar biasa itulah yang membuat penguasa Al-Makmun tidak berani macam-macam selama sang ulama itu masih hidup.

Pernah Al-Makmun menyatakan, kalau saja Yazid bin Harun tidak ada, aku sudah menyatakan bahwa Alquran itu makhluk.

Seorang staf istana bertanya, ”Kenapa Anda begitu segan dengan Yazid bin Harun?”
Al-Makmun menjelaskan, Aku sangat mengakui kharisma beliau yang begitu dihormati dan dijadikan rujukan oleh hampir semua rakyatku. Kalau aku mengatakan itu, dan pasti Yazid bin Harun akan membantahku, maka rakyat akan bergejolak. Dan itu merupakan bencana untukku!

Yazid bin Harun meninggal dalam usia 89 tahun di masa pemerintahan Al-Makmun, pada tahun 206 Hijriyah.
Seorang teman Imam Ahmad bin Hambal menceritakan sebuah mimpi yang ia alami. Dalam mimpi itu, ia bertemu dengan Yazid bin Harun. Ia bertanya, ”Apakah Anda didatangi Malaikat Munkar dan Nakir setelah Anda dimakamkan?”
Dalam mimpi itu, Yazid bin Harun menjawab, ”Benar. Mereka menanyakanku: siapa Tuhanmu? Apa agamamu?”
Lalu kujawab, ”Apakah pertanyaan seperti ini yang kailan ajukan kepadaku? Sungguh, ketika di dunia, aku biasa mengajarkan hal itu kepada manusia!”
Mendapati jawaban seperti itu, Malaikat Munkar dan Nakir menyatakan, ”Kamu benar. Karena itu, silakan Anda tidur seperti pengantin baru.” 
(muhammadnuh@eramuslim.com)/Min ’Alam As-Salaf

Surat Hasan al-Basri Kepada Umar bin Abdul Aziz

Hasan Al-Basri rohimahullah menulis surat kepada Umar bin Abdul Aziz rohimahullah, dan dalam suratnya Hasan Al-Basri berkata, “Ketahuilah, sesungguhnya tafakkur Itu mengajak pelakunya kepada kebaikan dan mengamalkannya. Menyesali kejahatan Itu membuat pelakunya meninggalkannya.
Apa yang telah hilang – kendati sangat banyak-tidak bisa dibandingkan dengan apa
yang masih ada, kendati mencarinya adalah sesuatu yang mulia. Bersabar terhadap kelelahan sebentar yang menghasilkan istirahat lama itu lebih baik , daripada penyegeraann istirahat sebentar yang menghasilkan kelelahan abadi.

Waspadalah terhadap dunia yang menipu, berikhianat, dan memperdaya. ia berhias
dengan tipuannya, berdandan dengan muslihatnya, membunuh manusia dengan mimpi-mimpinya, dan membuat ridu para pelamarnya, hingga Ia menjadi seperti pengantin yang menjadi pusat perhatian. Semua mata melihat kepadanva.

Semua hati rindu kepadanya. dan semua jiwanya tertarik kepadanya. Ia menjadi pembunuh bagi semua suami- suaminya. Tragisnya orang yang masih hidup tidak mau belajar dari orang yang telah meninggal dunia, generasi terakhir tidak mengambil pelajaran dari generasi pertama, orang bijak tidak mendapatkan manfaat dari banyaknya pengalaman, dan orang yang kenal Allah dan beriman kepada-Nya tidak ingat
ketika la diberi penjelasan tentang dunia.

Akibatnya, hati manusia mencintai dunia dan jiwa mereka kikir dengannya. Ini semua tidak lain bentuk kerinduan kita kepada dunia, karena barangsiapa merindukan sesuatu, Ia tidak memikirkan yang lain. Ia mati ketika memburunya atau berhasil mendapatkannya. Kedua orang tersebut adalah perindu dan pemburu dunia.
Perindu dunia telah sukses mendapatkan dunia dan tertipu dengannya. Dengan
dunia, Ia lupa akan prinsip dan hari akhirat. Hatinya disibukkan oleh dunia. Hatinya dibuat larut oleh dunia, hingga kakinya tergelincir di dalamnya, dan kematian datang kepadanya dengan sangat cepat daripada sebelumnya. Ketika itu, penyesalanya pun menggelembung, kesedihannya membesar, terkumpul padanya sakaratul maut dan rasa sakitnya dengan sedih kehilangan dunia.
Sedang orang kedua meninggal sebelum berhasil memenuhi kebutuhannya. Ia pergi
dari dunia dalam keadaan terpukul hatinya, tidak mendapatkan apa yang dicarinya
dan jiwanya tidak bisa istirahat, dari kelelahan. Ia keluar dari dunia tanpa bekal dan tiba tanpa membawa oleh-oleh. Oleh karena itu, waspadalah secara penuh terhadap dunia, karena dunia itu tak ubahnya seperti ular; kulitnya halus, namun racunnya mematikan.

Berpalinglah dari apa saja di dunia ini yang menarik hatimu, kanena jarang sekali sesuatu yang ada di dunia ini yang menemanimu. Buanglah seluruh ambisi kepada dunia dari dalam hatimu, karena engkau mengetahui dunia itu menyakitkan dan engkau yakin akan berpisah dengannya. Oleh karena itu, waspadalah wahai Amirul Mukminin. Karena sesungguhnya pemilik dunia, setiap kali ia senang kepadanya maka itu berubah menjadi kebencian.

Orang yang gembira di dunia ialah orang yang tertipu, orang yang bermanfaat di dalamnya kelak menjadi orang yang merugi, kemakmuran di dalamnya diberikan bercampur dengan cobaan, dan keabadian di dalamnya berubah menjadi fana. Kebahagiaan di dalamnya bercampur dengan kesedihan, dan akhir kehidupan di
dalamnya adalah lemah dan tidak berdaya. Oleh karena itu, lihatlah dunia seperti penglihatan orang zuhud yang hendak meninggalkannya, dan jangan melihat dunia seperti penglihatan perindu yang jatuh cinta.
Ketahuilah, bahwa dunia itu menghilangkan tamu yang telah menetap, dan menyakitkan orang tertipu yang merasa aman. Apa yang telah berlalu dari dunia tidak akan kembali lagi, dan apa yang akan datang tidak bisa diketahui, apa lagi ditunggu.!

Waspadalah terhadap dunia, karena mimpi-mimpinya dusta belaka, khayalan- khaya
lannya batil kehidupannya melelahkan, dan kejernihannya adalah keruh. Engkau terancam mendapatkan dua hal di dunia ini; nikmat yang akansirna, dan cobaan
yang akan datang, atau musibah yang menyakitkan, dan kematian yang memutus
segala-galanya.

Sungguh, dunia itu melelahkan seseorang, jika ia mau berpikir. Ia berada dalam
nikmat yang membahayakan, takut terhadap musibah-musibah yang ada di dalamnya,
dan meyakini kematian. Seandainya Allah Yang Maha pencipta tidak menyampaikan
berita tentang dunia, dan tidak memberi perumpamaan tentang dunia, dan tidak
memerintahkan manusia bersikap zuhud di dalamnya, pasti dunia membangunkan
orang yang tidur, dan mengingatkan orang yang lupa diri!
Bagaimana tidak, padahal telah datang pelarang dari Allah Azza wa Jalla dan banyak sekali penasihat di dalamnya? Dunia di sisi Allah Azza wa Jalla tidak ada bobot dan nilainya. Berat dunia di sisi Allah Ta’ ala tidak seberat satu kerikil, dan tidak sebesar satu bintang di antara gugusan bintang yang ada. Allah tidak menciptakan makhluk yang Lebih Dia benci dari pada dunia –seperti di sampaikan kepadaku- dan Dia tidak melihat
kepada-nya sejak Dia menciptaknnya karena benci kepadanya.
Sungguh dunia dengan kunci-kuncinya dan semua simpanannya yang nilainya di sisi
Allah Lebih ringan dari sayap lalat , pernah diperlihatkan kepada Nabi kita,
Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, namun beliau menolak menerimanya, karena
beliau telah mengetahui bahwa jlka Allah membenci sesuatu, beliau harus membencinya. Jika Allah mengkerdilkan sesuatu, beliau harus mengkerdilkannya. Dan jika Allah
merendahkan sesuatu, beliau harus merendahkannya.
Jika beliau menerima dunia tersebut, maka bukti kecintaan beliau kepada dunia
tersebut ialah penerimaan beliau terhadap tawaran dalam bentuk dunia tersebut.
Namun beliau menolak mencintai sesuatu yang dibenci Allah, dan mengangkat apa
yang direndahkan Pemiliknya.

Jika Allah Ta’ala tidak menunjukkan tentang rendahnya nilai dunia kepada beliau,
namun Dia memandang rendah dunia tersebut dengan menjadikan kebaikannya sebagai
pahala bagi orang-orang yang taat, dan menjadikan hukuman dunia sebagai siksa
bagi orang-orang yang bermaksiat. Kemudian Allah mengeluarkan pahala taat dari
dunia tersebut, dan mengeluarkan hukuman maksiat daripadanya.

Di antara hal menunjukkan kepada dunia tentang keburukan dunia ini, bahwa Allah
Ta’ala menjauhkan dunia dari orang- orang yang shalih dengan suka rela dan membentangkannya kepada musuh-musuh-Nya dengan tujuan menipunya.

Orang yang tertipu dengan dunia dan tergoda dengannya menyangka bahwa ia
dimuliakan Allah Ta’ala dengan dunia tersebut. Ia lupa terhadap apa yang diperbuat
Allah terhadap Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan Nabi Musa ‘Alaihis Salam.
Adapun Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau mengikatkan batu diperutnya karena sakinglaparnya.
Adapun Nabi Musa ‘Alaihis Salam, beliau tidak meminta sesuatu kepada Allah Ta‘ala pada saat ia berteduh di bawah pohon, selain makanan yang bisa beliau makan untuk menghilangkan kelaparannya.
Sungguh banyak sekali riwayat-riwayat dan Nabi Musa ‘Alaihis Salam, bahwa Allah Ta’ala mewahyukan kepada beliau , Hai Musa, jika engkau melihat kemiskinan datang kepadamu, katakan, ‘Selamat datang simbol orang-orang shalih.’ Jika engkau melihat
kekayaan datang kepadamu, katakan, ‘ini adalah dosa yang hukumannya dipercepat.’
Jika engkau mau, aku ketengahkan Nabi Isa ‘alaihis salam kepada baginda, karena ia amat menakjubkan. Ia berkata, “Lauk-ku adalah lapar, Syi’arku ialah takut, Pakaianku ialah wol., Hewan kendaraanku ialah kedua kakiku. Lampuku di malam hari ialah bulan. Bahan bakarku di musim dingin ialah matahari. Buah -buahanku dan penghidupanku ialah apa yang ditumbuhkan bumi untuk binatang buas dan hewan ternak. Aku tidur dalam keadaan tidak memiliki apa-apa dan tidak ada seorang pun yang lebih kaya dariku”.
Jika engkau mau, aku ketengahkan contoh keempat, yaitu Nabi Sulaiman bin Daud
Alaihimas Salam, karena ia tidak kalah menakjubkan. Ia makan roti dan gandum, memberi roti coklat kepada keluarganya, dan tepung putih kepada rakyatnya.
Jika malam telah tiba, ia memakai baju dari tenunan kasar, dari tangannya ke lehernya Ia semalaman menangis hingga pagi hari. Ia makan makanan yang kasar, dan mengenakan pakaian kasar. Kendati Itu semua, mereka membenci apa saja yang dibenci Allah Ta’ala, memandang kecil apa yang dipandang kecil oleh Allah Ta’ala, dan bersikap zuhud di dalam hal-hal yang Allah bersikap zuhud di dalamnya.
Kemudian orang-orang shalih meniti jalan mereka, menapaktilasi jalan mereka, mengharuskan dirinya berlelah- lelah, dan memahami lbrah, serta merenung diri.

Mereka bersabar di dunia yang singkat ini dari kenikmatan yang menipu yang berakhir kepada kemusnahan. Mereka melihat kepada akhir dunia, dan tidak melihat kepada permulaannya. Mereka melihat kepada hasil akhir dunia yang pahit, dan tdak melihat rasa manis yang hanya terasa pada awal-awalnya saja.
Mereka mengharuskan dirinya bersabar dan menempatkan diri mereka seperti mayit-mayit yang tidak boleh kenyang di dunia, kecuali pada saat yang dibutuhkan. Mereka makan sebatas untuk menguatkan jiwa, dan ruh. Mereka menempatkan diri mereka seperti bangkai yang telah membusuk, hingga membuat siapa saja yang melewatinya, pasti Ia menutup hidungnya. Mereka tidak meraih dunia hingga sampai tahap merugikannya, dan tidak sampai kenyang yang berbau busuk.
Dunia dijauhkan dari mereka. Itulah kedudukan dunia dalam jiwa mereka. Mereka
merasa heran terhadap orang yang memakan dunia hingga kekenyangan, dan
bersenang-senang dengannya hingga rakus. Mereka berkata, Tidakkah kalian lihat
bahwa mereka tidak takut makan? Tidakkah mereka mendapatkan bau busuknya?
Saudaraku, demi Allah sesungguhnya bau dunia sekarang atau esok itu lebih busuk
daripada bangkai. Hanya saja manusia meminta sabar dengan segera. Akibatnya,
mereka tidak bisa mencium bau busuk. Mereka tidak bisa mencium bau bau yang ada
di kulit yang membusuk yang mengganggu para pejalan kaki, dan orang-orang yang
duduk di dekatnya.

Cukuplah dunia bagi orang yang berakal, bahwa barangsiapa meninggal dunia
dengan meninggalkan harta yang banyak, Ia sangat berkeinginan seandainya dulu
ia menjadi orang miskin di dunia, atau orang mulia, atau orang buangan, atau
orang selamat. Ia lebih senang seandainya di dunia dulu ia menjadi orang yang
menderita, atau rakyat biasa.
Jika engkau meninggalkan dunia ini, pasti engkau lebih senang seandainya engkau
di dunia ini menjadi orang yang paling rendah kedudukannya, dan orang yang
paling miskin. Bukankah ini cukup dijadikan bukti bahwa dunia itu sangat hina
bagi orang yang memikirkannya?

Demi Allah, jika seseorang mengharapkan sesuatu dari dunia ini melainkan ia
mendapati dunia tersebut berada di sampingnya tanpa ia kejar dan merasakan
kelelahan. Namun jika Ia telah mendapatkan sesuatu dari dunia tensebut, ia mempunyai hak-hak Allah di dalamnya, dan ia akan ditanya tentang dunia tersebut, serta ia akan dihisab karenanya Jika demikian permasalahannya, maka seyogyanya orang berakal itu tidak mengambil sesuatu dari dunia, kecuali sebesar porsi makanannya dan kebutuhannya, karena khawatir akan ditanya tentang dunia tersebut, dan takut akan dahsyatnya hisab terhadap dirinya.

Sesungguhnya dunia itu jika engkau memikirkannya, tidak lebih dari tiga hari: hari kemarin yang tidak bisa engkau harapkan lagi, hari yang engkau berada didalamnya yang harus engkau manfaatkan sebaik mungkin, dan hari esok yang engkau tidak tahu apakah engkau berada di hari tersebut atau tidak? Engkau tidak tahu siapa tahu engkau meninggal dunia esok pagi.
Adapun kemarin, ia ibarat orang bijak yang pandai mendidik. Adapun hari ini, ia ibarat teman yang akan mengucapkan selamat berpisah. Namun, kendati kemarin telah membuatmu sakit, engkau telah menggenggam hikmah. Jika engkau telah menyia-nyiakannya, engkau mendapatkan ganti. Tadinya kemarin tersebut tidak ada pada dirimu, namun sekarang ia cepat pergi darimu.
Adapun esok hari, engkau masih mempunyai secercah harapan. Oleh karena itu,
berbuatlah, dan jangan tertipu oleh mimpi-mimpi sebelum ajal tiba. Engkau jangan memasukkan kesedihan esok dan esok lusa ke dalam hari ini, karena hal tersebut hanya akan menambah kesedihanmu dan kelelahanmu, serta engkau kumpulkan pada hari ini sesuatu yang menyempurnakan hari-harimu. Itu hal yang mustahil, karena kesibukan Itu sangat padat, kesedihan Itu semakin bertambah, kelelahan itu semakin besar, dan seseorang membuang amal dengan impian kosong.

Seandainya harapan esok pagi keluar dari hatimu, engkau telah berbuat dengan
baik pada hari ini, dan telah mengurangi kesedihanmu pada hari ini. Namun harapanmu terhadap esok pagi itu membuatmu bersikap tidak serius,dan membuatmu menjadi orang yang banyak menuntut.
Jika engkau ingin kata-kata singkat, aku pasti mendiskripsikan untukmu tentang
dunia di antara dua jam; satu jam yang telah berlalu, satu jam yang akan datang, dan satu jam yang engkau sedang berada dl dalamnya.

Adapun satu jam yang telah berlalu dan telah lewat. maka engkau tidak mendapatkan kelezatan di istirahat keduanya dan merasakan sakit terhadap musibah keduanya. Sesungguhnya dunia ialah saat yang engkau sedang berada di dalamnya. Satu jam tersebut menipumu dari surga dan menggiringmu ke neraka.
Adapun hari ini -jika engkau memikirkannya- adalah ibarat tamu yang singgah kepadamu dan akan pergi darimu. Jika engkau menjamu dan melayaninya dengan baik, Ia menjadi saksi bagimu, memujimu, dan membenarkanmu di dalamnya. Jika engkau menjamunya dengan buruk, Ia berputar di kedua matamu.
Kedua hari tersebut adalah ibarat dua saudara. Salah seorang daripadanya bertamu kepadamu, kemudian engkau bersikap buruk terhadapnya, dan tidak menjamunya dengan baik. Sesudah orang tersebut pergi darimu, datanglah orang satunya, kemudian berkata kepadamu, Aku datang kepadamu setelah kepergian saudaraku.

Jika engkau berbuat baik kepadaku, perbuatan baikmu ini akan menghapus perbuatan burukmu kepada suadaraku sebelum ini dan memaafkan apa yang telah engkau perbuat terhadapnya. Hati-hatilah engkau, jika aku berkunjung kepadamu dan aku datang kepadamu setelah kepergian saudaraku darimu. Sungguh, engkau telah beruntung mendapatkan pengganti jika engkau mau berfikir.Periksalah apa yang telah engkau sia-siakan!.

Jika engkau menyamakan orang kedua seperti orang pertama, maka alangkah
pantasnya engkau binasa karena kesaksian dua orang tersebut terhadap dirimu!.
Sesungguhnya sisa umur itu tidak ada nilainya. Seandainya semua dunia dikumpulkan, maka dunia tidak lebih dari satu hari dalam umur seseorang.

Jangan sekali-kali mayat di kuburan itu lebih bisa menghargai sesuatu yang ada
di tanganmu daripada engkau sendiri. padahal sesuatu tersebut milikmu. Demi Allah. jika dikatakan kepada mayat di kuburan. ‘Inilah dunia itu dan awal hingga akhir. Engkau memberikannya kepada anak-anakmu kemudian mereka bersenang-senang dengannya sepeninggalmu. Engkau lebih mencintai mereka ataukah lebih mencintai hari di mana engkau dibiarkan beramal untuk dirimu? Pasti ia memilih pilihan kedua..
Bahkan, seandainya ia disuruh memilih satu jam dengan waktu berjam-jam milik
orang lain seperti telah aku jelaskan kepadamu, pasti ia lebih memilih waktu satu jam tersebut untuk dirinya.
Bahkan lagi, jika ia disuruh memilih antara satu kata yang mendapatkan pahala dengan hal-hal lain seperti telah aku jelaskan kepadamu, pasti ia lebih menyukai satu kata tersebut.
Periksalah dirimu hari ini! Lihatlah waktu! Agungkanlah kata! Hati-hatilah terhadap kerugian ketika Hari Kiamat telah tiba! Semoga Allah menjadikan nasihat ini bermanfaat bagiku dan bagimu. Semoga Allah memberi kita hasil yang baik.

Sumber : Buku Wasiat –wasiat Ulama terdahulu , Oleh Syaikh Salim l’ed Al-Hilali
hafidzahullah, Penerbit: Dar Ibnu
Jauzi. Cet. 2 1112 H/1991 M

Al-Hasan Al-Bashri

Imam Hasan Al Bashri adalah salah seorang ulama terkemuka dari kalangan tabi’in yang banyak berguru kepada para sahabat Rasulullah saw. Beliau lahir di Madinah, tahun 642 Masehi dari ayah bernama Yasar, bekas budak Zaid bin Tsabit dan ibu yang pernah menjadi budak Ummu Salamah, salah satu istri Nabi Muhammad saw. Jadi beliau lahir dalam kalangan keluarga Nabi saw. Bahkan tak jarang Ummu Salamah menyusui bayi Hasan ketika ditinggal oleh ibunya.

Ummu Salamah juga sering membawa Hasan yang masih kanak-kanak ke majelis para Sahabat dan Umar bin Khattab r.a. pernah mendoakannya: “Ya Allah, jadikan ia faham agama dan jadikan orang-orang mencintainya!”
Mutiara Hikmah dari Imam Hasan Al Bashri

Kata mutiara 1

“Wahai anak Adam! Kalian tidak lain hanyalah kumpulan hari, setiap satu hari berlalu maka sebagian dari diri kalian pun ikut pergi.”

Kata mutiara 2

“Diantara tanda berpalingnya Allah Subhanahu Wata’ala dari seorang hamba adalah Allah menjadikan kesibukannya pada hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.”

Kata mutiara 3

“Semoga Allah merahmati seorang hamba yang merenung sejenak sebelum melakukan suatu amalan. Jika niatnya adalah karena Allah, maka ia melakukannya. Tapi jika niatnya bukan karena Allah maka ia mengurungkannya.”

Kata mutiara 4

“Tidaklah datang suatu hari dari hari-hari di dunia ini melainkan ia berkata, “Wahai manusia! Sesungguhnya aku adalah hari yang baru, dan sesungguhnya aku akan menjadi saksi (di hadapan Allah) atas apa-apa yang kalian lakukan padaku. Apabila matahari telah terbenam, maka aku akan pergi meninggalkan kalian dan takkan pernah kembali lagi hingga hari kiamat.”

Kata mutiara 5

“Janganlah Anda tertipu dengan banyaknya amal ibadah yang telah Anda lakukan, karena sesungguhnya Anda tidak mengetahui apakah Allah menerima amalan Anda atau tidak.”

Kata mutiara 6

“Jangan pula Anda merasa aman dari bahaya dosa-dosa yang Anda lakukan, karena sesungguhnya Anda tidak mengetahui apakah Allah mengampuni dosa-dosa Anda tersebut atau tidak.”

Kata mutiara 7

“Saya belum menemukan dalam ibadah, sesuatu yang lebih sulit dari pada shalat di tengah malam.”

Kata mutiara 8

“Seorang mukmin hidup di dunia bagaikan seorang tawanan yang sedang berusaha membebaskan dirinya dari penawanan dan ia tidak akan merasa aman kecuali apabila ia telah berjumpa dengan Allah Subhanahu wata’ala.“

Kata mutiara 9

“Sesungguhnya Allah telah menetapkan kematian, sakit dan sehat (bagi setiap hamba-Nya). Barang siapa mendustakan takdir maka sesungguhnya ia telah mendustakan al-Qur’an. Dan barang siapa mendustakan al-Qur’an, maka sesungguhnya ia telah mendustakan Allah.”

Kata mutiara 10

“Wahai anak Adam, juallah duniamu untuk akhiratmu, niscaya kamu untung di keduanya, dan janganlah kamu jual akhiratmu untuk duniamu, karena kamu akan rugi di keduanya. Singgah di dunia ini sebentar, sedangkan tinggal di akhirat sana sangatlah panjang.”

Seorang pemuda mendatangi al-Hasan al-Bashri dan mengadukan masalah yang sedang ia hadapi kepadanya. Pemuda tersebut berkata, “Saya telah berusaha untuk bisa menjaga shalat malam, akan tetapi sampai saat ini saya masih belum mampu untuk melaksanakannya.” Al-Hasan al-Bashri menjawab, “Dosa-dosamu telah menghalangimu untuk melakukannya.”


Demikianlah, beberapa kalimat penuh hikmah, mutiara islam, dari salah seorang ulama salaf yang patut kita teladani.

Semoga bermanfaat.

Dialog antara Kahalifah dengan Panglima Perangnya...

'Umar ibn Khattab dan Khalid ibn Walid,
Dialog antara Kahalifah dengan Panglima Perangnya

Keduanya sebaya, teman bergelut pada waktu masih anak-anak. Setelah Nabi Muhammad RasuluLlah SAW membawakan risalah, keduanya menjadi penantang sengit. Umar ibn Khattablah yang pergi menghadap Najasah (Negus) Raja Habasyah (Abessinia) meminta kepada raja itu untuk menyerahkan semua Ummat islam yang hijrah ke kerajaah itu, namun permintaan Umar itu ditolak oleh Najasah. Seperti diketahui dalam sejarah, hijrah yang pertama adalah ke Habasyah. 'Umar men4ahului Khalid masuk Islam, masih dalam perio Makkah.

Adapun Khalid ibn Walid masuk Islam pada periode Madinah. Ia adalah komandan pasukan berkuda angkatan perang Quraisy. Pasukan berkuda Khalid inilah yang mernusuk pasukan Islam dan belakang pada Perang Uhud. Matanya yang jeli dapat melihat pasukan pemanah yang menjaga barisan belakang pasukaln Islam di celah bukit Uhud meninggalkan posnya karena melihat pertempuran sudah dimenangkan pasukan Islam. Padahal RasuluLlah SAW telah memerintahkan kepada pasukan pemanah yang menjaga celah bukit Uhud tidak boleh meninggalkan posnya, apapun yang terjadi. Ketidak-disiplinan pasukan pemanah itu yang menyebabkan pasukan berkuda Khalid mengubah situasi pertempuran menjadi terbalik. Kini giliran pasukan Islam yang bertahan, padahal tadinya pasuk Quraisylah yang dikejar, dipukul mundur. Namun ibarat main bola pasukan Islam yang bertahan itu akhirnya dapat melakukan serangpn balik. Akan tetapi dari pihak pasukan Islam tak kurang yang syahid dan menderita luka. Hamzah syahid, bahkan RasuluLlah SAW sendiri luka dalam pertempuran yang sengit itu.

Setelah Perjanjian Perdamaian Hudaybiyah dua orang panglima perang Quraisy datang di Madinah menyatakan din masuk Islam. Keduanya adalah Khalid ibn Walid dan Amr ibn Al Ash, yang kelak menjadi Gubemur Mesir. Walaupun dalam Perjanjian Hudaybiyah ada diktum yang menyebutkan bahwa apabila ada penduduk Makkah yang ke Madinah harus dikembalikan ke Makkah jika pihak Quraisy memintanya untuk dikembalikan, keduanya tidak dikembalikan ke Makkah, karena pihak Quraisy tidak memintanya.

Pada waktu Khalifah 'Umar ibn Khattab menjadi Khalifah, Khalid ibn Walid menjadi Panglima Perang. Kemana saja ia dikirim pasukannya selalu menang. Sekali waktu pasukan Khalid ada di Asia Kecil. Sebelum menyerbu pertahanan musuh Khalid mendapat SK dari Khalffah, yaitu SK pencopotan, dihentikan jadi panglima. Dalam penyerbuan itu, Kahlid sebagai tentera biasa masih menunjukkan kesungguhannya, bahkan masih berjasa dalam merebut kubu musuh. Waktu ditanya temannya sepasukan: "hai Khalid, buat apa engkau bersungguh-sungguh begitu, bukankah engkau telah dipecat 'Umar?" Khalid menjawab, "saya tidak berjuang untuk 'Umar, melainkan berjuang untuk Islam." Kemudian Khalid niinta izin dan panglima yang baru untuk ke Madinah minta penjelasan Khalifah.

Syahdan. inilah dialog secara terbuka antana 'Umar sebagai Khalifah dengan Khalid sebagai mantan Panglima.

"Mengapa saya dipecat, apa kesalahan saya?"
"Engkau saya pecat untuk mencegah tiga hal.

Pertama, untuk Khalifah, Panglima tidak boleh lebih populer dari Khalifah.

Yang kedua, untuk engkau sendiri, engkau adalah manusia biasa, kalau berhasil terus dalam memimpin engkau akan menjadi sombong.

Yang ketiga untuk rakyat, rakyat harus dipelihara aqidahnya dan kemusyrikan memuja, mengkultus-individukan pahlawannya."

"Saya terima pemecatan itu dengan ikhlas".
"Engkau sekarang saya tugaskan membantu Sa'ad di front sebelah timur yang sedang mengalami kesulitan melawan pasukan bergajah angkatan perang Parsi."

Maka Khalid dikirimlah ke front sebeiah timur. Ia menyarankan kepada Panglima Sa' ad untuk menghadapi setiap ekor gajah perang dengan satu regu pasukan panah. Yang dipanah dahulu adalah penunggangnya. Setelah penunggangnya tewas baru memanah gajah pada bagian yang sensitif. Khalid sendiri menawarkan dirinya untuk menjadi kepala regu dari salah satu regu pemanah. Taktik Khalid ini berhasil memukul mundur tentera bergajah itu. Karena gajah itu sudah tidak ada yang mengendalikannya, dan kesakitan kena panah, para gajah itu berbalik haluan menginjak-injak tentera berkuda dan infanteri di belakangnya, maka kocar kacirlah pasukan Parsi itu.


Ada empat nilai yang masih relevan hingga kini dalam kehidupan bernegara dari dialog di atas.


 
  • Yang pertama, sikap keterbukaan dan keikhlasan, sebab tanpa keterbukaan mudah terjadi kesalah fahaman, yang mengandung bibit perpecahan ibarat api dalam sekam, baik dalam kalangan pimpinan, maupun antara yang memimpin dengan yang dipimpin.
  • Yang kedua, kepala negara tidak boleh kalah populer dari panglimanya. Betapa banyak terjadi perebutan kekuasaan yang dilakukan oleh panglima suatu negara maupun kerajaan dalam sejarah.
  • Yang ketiga, orang yang selalu sukses dalam bidang apa saja, akan menjadi empuk bagi iblis untuk masuk dalam perangkapnya bersifat seperti iblis sendiri, yaitu takabur, menyombongkan diri, balk kesombongan kepangkatan, maupun kesombongan intelektual dan jenis jenis kesombongan yang lain.
  • Yang keempat, sikap mendewakan pemimpin, taat tanpa reserve, loyal tanpa batas dari rakyat, menyebabkan rusaknya aqidah rakyat di pihak yang satu, dan pada pihak yang lain pemimpin akan menjadi diktator. Contohnya banyak dalam sejarah seperti misalnya rakyat Jerman yang memuja Fuhrernya, Hitler, sang diktator.

Peminang Bidadari...

Sunaid bin Daud mengatakan bahwa sepupunya Juwairiyah bin Asmaa’ bercerita kepadanya,
Ketika kami berada di kota Ubadan, datang seorang pemuda ahli ibadah penduduk kota Kufah.
Lalu pemuda itu meninggal pada hari yang sangat panas.
Aku menyarankan kepada teman-teman agar kami mengurus jenazah itu setelah derajat panas agak berkurang.

Maka kami beranjak untuk mempersiapkan jenazah.
Tidak lama setelah itu aku tertidur dan bermimpi seakan berada di sebuah pemakaman,
dan tiba-tiba aku berada di sebuah kubah dengan indahnya kilauan mutiara.
Aku terus memperhatikannya, dan tiba-tiba kubah itu terbelah,
lalu muncullah seorang pelayan wanita yang tidak pernah aku lihat padanan kecantikannya.
Dia bergerak mendekati ke arahku seraya berkata:

“Demi Allah, janganlah engkau tahan pemuda itu dari kami sampai waktu Dzuhur.”

Aku pun terperanjat bangun, lalu aku segera mempersiapkan kembali jenazah itu,dan aku pun menggali tanah untuk kuburannya di tempat yang sama dengan kubah yang aku lihat dalam mimpiku.
Akhirnya aku menguburkan jenazahnya di tanah itu.

Dikisahkan oleh Ibnu Abid Dunya dalam Al-Manaamat
sebagaimana dinukil dalam Al-Huur al-Ain wa Manaamatu ash-Shalihin oleh Syaikh Ihsan Hasanain

Kisah sahabat: Ibnu Zubair (Abdullah bin Zubair) 94 H

Seorang pemimpin masa Khalifah Ali bin Abi Talib dan awal khilafah Bani Umayyah. Dia adalah bayi pertama yang lahir dikalangan Muhajirin di Madinah. Ayahnya bernama Zubair Awwam dan ibunya, Asma binti Abu Bakar as-Siddiq. Ia sepupu dan juga kemenakan Nabi Muhammad dari istrinya, Aisyah binti Abu Bakar. Ia termasuk salah seorang dari “Empat ‘Ibadillah” (empat orang yang bernama Abdullah) dari 30 orang lebih sahabat Nabi yang dikenal menghafal seluruh ayat-ayat Al-Qur’an, Tiga orang ‘Ibadillah lainnya adalah Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar bin Khatab, dan Abdullah bin Amr bin As.

Ibnu Zubair telah mengenal perang sejak berusia 12 tahun, yaitu ketika bersama ayahnya turut dalam Perang Yarmuk, dan empat tahun kemudian kembali menyertai ayahnya yang menjadi anggota pasukan Amr bin As di Mesir. Ibnu Zubair juga mengambil bagian dalam ekspedisi Abdullah bin Sa’ad bin Abi Sarh melawan orang-orang Byzantium di Afrika. Semua peristiwa tersebut mengundang kekaguman penduduk Madinah kepadanya.

Di masa Khalifah Usman bin Affan, ia duduk sebagai anggota panitia yang bertugas menyusun Al-Qur’an. Di masa KhalifahAli bin Abi Talib, ia bersama Aisyah mengatur langkah untuk menantang Khalifah tersebut untuk menuntut penyelesaian kasus pembunuhan Khalifah Usman. Gerakan ini didukung oleh beberapa tokoh, seperti Ja’la bin Umayyah dari Yaman, Abdullah bin Amr Basra, Sa’ad bin As, dan Wahid bin Uqbah (pemuka kalangan Umayyah di Hedzjaz) dan beberapa sahabat senior (Talhah bin Ubaidillah dan Zubair bin Awwam), dan ayahnya. Perselisihan antara kelompoknya dan kelompok Ali yang sedang berkuasa diselesaikan dalam Perang Unta (Waqiah al-Jamal). Dalam perang inilah ia menyaksikan ayahnya gugur. Disebut Perang Unta karena Aisyah mengendarai unta saat memimpin pasukan itu.

Ibnu Zubair kembali melawan Dinasti Bani Umayyah. Meskipun di masa Mu’awiyah bin Abi Sufyan bentuk perlawanannya belum bersifat terbuka, ia tampil menantang khilafah (pemerintahan) Bani Umayyah secara terang-terangan. Ia memprotes Yazid, putra Mu’awiyah, yang naik menjadi khalifah atas penunjukan ayahnya setelah ayahnya wafat. Yazid memerintahkan walinya di Madinah untuk memaksa Ibnu Zubair bersama Husein bin Ali (cucu Nabi) dan Abdullah bin Umar agar menyatakan kesetiaan kepadanya. Ibnu Zubair dan Husein tetap membangkang. Demi keamanan, keduanya pindah ke Mekah. Ia tetap sebagai penantang khalifah sekalipun Husein, tak lama sesudah itu, tewas dengan menyedihkan dalam pertempuran tak seimbang di Karbala.

Pernyataan secara terbuka, bahwa kekuasaan Yazid tidak sah membawa pengaruh luas dikalangan ansar di Madinah yang akhirnya melahirkan pemberontakan. Setelah menunggu kesempatan yang baik, Yazid mengerahkan tentara Suriah di bawah pimpinan Muslim bin Uqbah dan memadamkan pemberontakan orang-orang Madinah tersebut dalam Perang Harran. Kematian Muslim bin Uqbah tak menghalangi tentara tersebut untuk bergerak menuju Mekah dengan sasaran mematahkan perlawanan Ibnu Zubair. Tentara tersebut mengepung dan menghujani kota Mekah dengan batu dan panah api yang menyebabkan Ka’bah terbakar. Berita meninggalnya Khalifah Yazid menyebabkan komandan pasukan, Husain bin Numair, mencoba membujuk Ibnu Zubair agar bersedia bergabung dengan mereka untuk kembali ke Suriah. Ibnu Zubair menolak bujukan tersebut dengan mengatakan bahwa ia akan tetap di Mekah. Selanjutnya, ia memproklamasikan dirinya sebagai amirulmukminin. Sekalipun proklamasi itu tidak lebih dari sekedar nama, namun lawan-lawan dinasti Bani Umayyah di Suriah, Mesir, Arab Selatan, dan Kufah sempat menghargainya sebagai khalifah.

Setelah Mu’awiyah putra dan pengganti Yazid meninggal dunia, Ibnu Zubair muncul sebagai kandidat khalifah atas dukungan Bani Qais. Selain itu ada kandidat lainnya yaitu, Marwan bin Haqam (dukungan Bani Qalb) dan dua kabilah Arab berdomisili di Suriah, juga saling bersaing mengajukan calon masing-masing. Akan tetapi, Ibnu Zubair terpojok tatkala peta kekuatan politik mengalami perubahan, akibat pemberontakan di Kufa dan pembelontan di antara pengikutnya, setelah Yazid wafat. Pengepungan membawa kematiannya terjadi ketika

Hajjaj bin Yusuf as-Saqafi ditugaskan oleh khalifah Abdul Malik bin Marwan, putra Marwan bin Hakam, untuk menyelesaikan perlawanan “Sang Penantang Enam Khalifah” – dari Ali, Mu’awiyah, Yazid, Mu’awiyah, Marwan bin Hakam, sampai Abdul Malik.

Tidak kurang dari tujuh bulan diperlukan untuk menghujani kota suci Mekah dan Ka’bah dengan bombardir pasukan al-Hajjaj untuk melumpuhkan perlawanan Ibnu Zubair. Ia masih bertahan tatkala putra-putranya menyerahkan diri kepada al-Hajjaj. Keperkasaannya bangkit kembali setelah berjumpa sebentar dengan ibunya yang sudah buta, yang mendorongnya dengan memberikan semangat juang. Padahal sebelumnya, ia sempat menyatakan kepada ibunya rasa khawatir, bahwa mayatnya akan diperlakukan secara sadis oleh para pembunuhnya kelak. Ibunya mengatakan bahwa kambing yang sudah disembelih tak sedikit pun akan merasakan sayatan-sayatan pada dagingnya. Jawaban ini mendorongnya keluar dari rumah tempat ia bertahan , maju ke tengah-tengah lawannya yang kemudian menyergap dan menghabisinya. Mayatnya ditempatkan pada tiang gantung yang sama di mana saudaranya, Amr, pernah mengalami hal serupa. Atas perintah Abdul Malik, mayatnya kemudian diserahkan kepada ibunya. Tak lama berselang, setelah menguburkan mayat putranya itu, ia pun wafat pada tahun 94 H.

kisah Sahabat: Muadz Bin Jabal Radhiyallahu 'anhu -inilah yang paling tahu yang halal dan yang haram

Muadz bin Jabal bin Amr bin Aus al-Khazraji, dengan nama julukan “Abu Abdurahman”, dilahirkan di Madinah. Ia memeluk Islam pada usia 18 tahun, Ia mempunyai keistimewaan sebagai seorang yang sangat pintar dan berdedikasi tinggi. Dari segi fisik, ia gagah dan perkasa. Allah juga mengaruniakan kepadanya kepandaian berbahasa serta tutur kata yang indah, Muadz termasuk di dalam rombongan yang berjumlah sekitar 72 orang Madinah yang datang berbai’at kepada Rasulullah. Setelah itu Muadz kembali ke Madinah sebagai seorang pendakwah Islam di dalam masyarakat Madinah. Ia berhasil mengislamkan beberapa orang sahabat yang terkemuka seperti misalnya Amru bin Al-Jamuh.

Pada waktu Nabi Muhammad berhijrah ke Madinah, Muaz senantiasa berada bersama dengan Rasulullah sehingga ia dapat memahami Al-Qur’an dan syariat-syariat Islam dengan baik. Hal tersebut membuatnya di kemudian hari muncul sebagai seorang yang paling ahli tentang Al-Qur’an dari kalangan para sahabat. Ia adalah orang yang paling baik membaca Al-Qur’an serta paling memahami syariat-syariat Allah. Oleh sebab itulah Rasulullah memujinya dengan bersabda, “Yang kumaksud umatku yang paling alim tentang halal dan haram ialah Muaz bin Jabal.” (Hadist Tirmidzi dan Ibnu Majah). Ia meriwayatkan hadist dari Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar dan meriwayatkan darinya ialah Anas bin Malik, Masruq, Abu Thufail Amir bin Wasilah. Selain itu, Muadz merupakan salah satu dari enam orang yang mengumpulkan Al-Qur’an pada zaman Rasulullah.

Setelah kota Makkah didatangi oleh Rasulullah, penduduk Makkah memerlukan tenaga-tenaga pengajar yang tetap tinggal bersama mereka untuk mengajarkan syariat agama Islam. Rasulullah lantas menyanggupi permintaan tersebut dan meminta supaya Muaz tinggal bersama dengan penduduk Makkah untuk mengajar Al-Qur’an dan memberikan pemahaman kepada mereka mengenai agama Allah. Sifat terpuji beliau juga jelas terlihat manakala rombongan raja-raja Yaman datang menjumpai Rasulullah guna meng-isytihar-kan keislaman mereka dan meminta kepada Rasulullah supaya mengantarkan tenaga pengajar kepada mereka. Begitupun maka Rasulullah memilih Muaz untuk memegang tugas itu bersama-sama dengan beberapa orang para sahabat.

Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam mempersaudarakanya dengan Abdullah bin Mas’ud. Nabi mengirimnya ke negeri Yaman untuk mengajar, memberikan pengetahuan agama dan mendidik sampai hapal al-Quran kepada penduduk Yaman. Rasulullah mengantarnya dengan berjalan kaki sedangkan Mu’adz berkendaraan, dan Nabi bersabda kepadanya: ” Sungguh, aku mencintaimu“.

Lantas beliau mewasiatkan kepada Muadz dengan bersabda : “Wahai Muadz! Kemungkinan kamu tidak akan dapat bertemu lagi dengan aku selepas tahun ini“, Kemudian Muadz menangis karena terlalu sedih untuk berpisah dengan Rasulullah Shallalahu alaihi wassalam. Selepas peristiwa tersebut ternyata Rasulullah wafat dan Muadz tidak lagi dapat melihatnya.

Muadz sangat terpukul atas berpulangnya Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. Ia bahkan menangis tersedu-sedu selama beberapa saat. Namun ia segera menyadari tanggung jawab dakwah di pundaknya. Ia senantiasa menjaga ghirah (semangat) keislamannya agar tidak surut. Setelah Umar bin Khattab dilantik menjadi khalifah, ia mengutus Muaz untuk mendamaikan pertikaian yang terjadi di kalangan Bani Kilab. Ia pun sukses menjalankan misi itu.

Pada zaman pemerintahan Khalifah Umar pula, gubernur Syam (sekarang Mesir) mengirimkan Yazid bin Abi Sofian untuk meminta guru bagi penduduknya. Lalu Umar memanggil Muaz bin Jabal, Ubaidah bin As-Somit, Abu Ayub Al-Ansary, Ubai bin Kaab dan Abu Darda’ dalam satu majelis. Khalifah Umar berkata kepada mereka : “Sesungguhnya saudara kamu di negeri Syam telah meminta bantuan daripada aku supaya mengantar siapa saja yang dapat mengajarkan Al-Qur’an kepada mereka dan memberikan pemahaman kepada mereka tentang agama Islam. Oleh karena itu bantulah aku untuk mendapat tiga orang dari kalangan kamu semoga Allah merahmati kamu. Sekiranya kamu ingin membuat pengundian, kamu boleh membuat undian, jika tidak aku akan melantik tiga orang dari kalangan kamu.”

Lalu mereka menjawab : “Kami tidak akan membuat pengundian dengan memandang bahwa Abu Ayub telah terlalu tua, sedang Ubai pun senantiasa mengalami kesakitan, dan yang tinggal hanya kami bertiga saja.” Kemudian Umar berkata kepada mereka : “Kalian mulailah bertugas di Hims, sekiranya kamu suka dengan keadaan penduduknya, bolehlah salah seorang diantara kamu tinggal di sana. Kemudian salah seorang daripada kamu hendaknya pergi ke Damsyik, dan seorang lagi pergi ke Palestina.”

Lalu mereka bertiga keluar ke Hims dan mereka meninggalkan Ubaidah bin As-Somit di sana, Abu Darda’ pergi ke Damsyik. Muaz bin Jabal terus berlalu pergi ke negara Urdun. Muaz bin Jabal berada di Urdun pada saat negeri tersebut tengah terserang wabah penyakit menular.

Mu’adz bin Jabal wafat tahun 18 H ketika terjadi wabah hebat di Urdun tersebut, waktu itu usianya 33 tahun .


Disalin dari Biografi Mu’adz dalam Al-Ishabah no.8039 karya Ibn Hajar Asqalani dan Thabaqat Ibn Sa’ad 3/Q2,120